Friday, 4 October 2013

Analysis Paralysis, makhluk apakah itu ?




Suatu saat, seekor lipan (yang kakinya banyak) mengejar seekor laba-laba. Kemudian laba-laba ini berhenti, menoleh sejenak, dan bertanya kepada si lipan, “Saya kagum dengan kamu, Lipan! Bagaimana cara kamu mengkoordinasikan kaki yang banyak itu?”

Lipan itu menjawab, “Saya tidak tahu. Saya tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.”

Segera setelah itu, laba-laba kembali berlari, dan lipan mencoba untuk mengejar, tetapi kali ini ia tidak mampu karena ia tidak bisa membuat kakinya berjalan dengan baik lagi.

Kenapa si Lipan tidak berhasil mengejar si laba-laba.
Jawabnya : Kekacauannya berpikir diakibatkan oleh pertanyaan si lipan sehingga otaknya yang semula tidak terlalu memikirkan bagaimana kakinya melangkah akhirnya menjadi terbebani dengan bagaimana mengatur kaki-kakinya yang banyak agar tidak saling tersangkut serta ditambah kesibukannya sendiri memikirkan mana yang kiri dan mana yang kanan, mana yang duluan dan mana yang harus serentak.

Dari cerita ini ada pesan yang ingin disampaikan yaitu "berpikir atau analisa berlebih justru merugikan". Kondisi ini dikenal dengan istilah analysis paralysis atau paralysis of analysis. Dalam kondisi ini, justru keputusan apalagi tindakan/action tidak muncul. Sebuah keputusan memang bisa dipikirkan secara detail dari berbagai sudut pandang, berbagai pilihan, berbagai kemungkinan. Saat kita terus berusaha mencari solusi paling maksimal, kadang yang terjadi adalah kondisi ini. Waktu dan energi kita akan habis terkuras untuk memikirkan putusan mana yang akan diambil dengan alternatif yang sedemikian banyaknya.

Memang sulit untuk menentukan apakah kita sudah melakukan analisa berlebihan atau belum. Langkah yang bisa dilakukan adalah memilah analisa menjadi 2 atau 3 kategori (short term atau smaller scope, longer term atau larger scope). Lakukan analisa terbatas secara cepat untuk kemudian beralih menentukan solusi cepat. Sambil, pada saat bersamaan jika memungkinkan bisa saja melakukan analisa yang lebih komprehensif. Cara ini memang akan lebih menghabiskan energi dan waktu, tapi setidaknya bisa mengambil manfaat dan menghindari resiko dari analisa terlalu minim dan analisa berlebihan.

Tindakan Tegas lebih Penting daripada Analisis-Paralisis

Sebuah perusahaan maupun organisasi apapun, baik bisnis, sosial atau politik bertujuan untuk mendapatkan hasil.  Hasil yang diinginkan disebut sebagai “KEUNTUNGAN”.  Keuntungan yang bersifat nyata atau imateri adalah syarat berdirinya sebuah Organisasi.  Tentu untuk mendapatkan sebuah keuntungan perlu dijalankan namanya "Perencanaan Strategi dan Pelaksanaan Strategi""Strategic Planning dan Operational Planning" saling berbagi peran untuk mencapai Visi Misi Perusahaan (Organisasi) pada kisaran 30:70.  Hal ini sangat tampak bahwa Pencapaian Hasil dari Operational Planning memiliki Tingkat Dominasi lebih dibandingkan Strategic Planning.

Secara tidak langsung, para petinggi perusahaan (pemegang saham/pemodal) atau top manajemen akan selalu berkata “Putuskan apa yang akan dilakukan dan Lakukan hal itu Sekarang juga” Just Do It.  Sebab banyak perusahaan yang memelihara para pembual yang berbau “Omong Kosong” dan tentu saja sudah jelas bahwa “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”.

Membangun organisasi yang "Sustain" memerlukan sebuah "Tindakan Tegas" dan tidak mengedepankan Analisa yang Bertele-tele (Analisis Paralisis).  Tindakan Tegas akan membawa kemenangan dibandingkan orang yang ragu-ragu.  Sudah terlalu banyak orang yang memiliki kemampuan analisa yang njelimet, opini, pendapat dan segudang argumen, namun masih langka orang yang memiliki ketegasan mengambil keputusan.

Berikut beberapa cara dari seorang pakar kepemimpinan yang dapat dilakukan dan kembangkan untuk membangun Iklim Ketegasan dalam berbagai Tindakan, yaitu :

1.     Jadikan Pengambilan Keputusan sebagai suatu Kebiasaan.
Pada awalnya mungkin keputusan yang diambil adalah buruk, namun dengan semakin sering berlatih maka Anda akan mahir dalam Pengambilan Keputusan yang Tepat.  Lebih baik Anda benar hanya 51% dari semua Keputusan yang diambil dibandingkan tidak dapat memutuskan apa-apa yang harus dilakukan.

2.     Jangan Tolelir Pengambilan Keputusan Terbalik.
Ketika Anda memberikan kepada seseorang untuk melakukan sebuah Pengambilan Keputusan jangan pernah menerima kembali pemecahan masalah ke pangkuan Anda.  Ini bukan cara belajar yang efektif, justru Anda tengah mematikan Potensi Pengembangan Diri seseorang.  Berikan kepada orang tersebut untuk menulis semua kemungkinan solusi yang ada di benaknya, urutkan prioritasnya dan pilih satu.  Maka Anda telah membantu dia untuk Berkembang dan berhenti membuang waktu Anda.

3.     Tuliskan Keputusan yang akan diambil secara Sederhana dan Jelas.
Kupas dengan jelas permasalahan yang ada dengan cara sederhana, alokasikan waktu untuk menganalisa informasi dan tentukan pilihan Anda sesuai Tenggat Waktu yang ada.  Ini akan menghindari Anda dari jebakan Analisis-Paralisis (analisa berlebihan), Kebimbangan dan Penundaan.

4.     Temukan Informasi Terbaik dalam Batas Waktu Anda.
Jika Anda menunggu informasi yang paling tepat, tentu akan menunggu selamanya, jangan pernah menunggu keadaan sempurna.  Segera tetapkan keputusan Anda dari informasi terbaik yang ada.

5.     Pertimbangkan sebanyak mungkin Alternatif.
Buat sebanyak mungkin solusi yang Anda bisa dan berikan masing-masing poin 1 sampai 10 untuk skala prioritas.  Anda tidak mungkin memiliki Solusi Optimal jika Anda tidak pernah memilikinya. Dalam dunia nyata akan ada sekurang-kurangnya beberapa pilihan yang baik dan Anda dapat memilih satu diantaranya.

6.     Gunakan Pendekatan Keseimbangan dalam Pertimbangan beberapa Alternatif.
Ketika cukup banyak alternatif yang Anda punya, maka lakukan analisa secara seimbang, dengan melihat kelebihan satu dan lainnya.  Lihat sisi Positif dan Negatif dari masing-masing Solusi Alternatif dan segera tetapkan pilihan Anda.  Hal ini pula yang dilakukan Benjamin Franklin dalam mengungkapkan sebuah ide dua ratus tahun lalu dan masih berlaku sampai saat ini.

7.     Ambil Tindakan dan Hargai Orang yang melakukannya.
Melihat adalah satu hal dan melihat apa yang Anda lihat adalah perkara lain.  Mengerti sesuatu juga satu hal dan belajar dari yang Anda mengerti adalah perkara lain.  Dan Bertindak dengan apa yang Anda pelajari adalah Hal Terpenting dalam sebuah Strategi Manajemen dan Kepemimpinan.

Mudah-mudahan bermanfaat bagi siapapun yang merasa dirinya pemimpin ataupun pimpinan. 

Sumber : Media Kepemimpinan
 

: : diliecute : : Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates