Tuesday, 13 March 2018

Edisi Puncak Sabar


SECARA alamiah dan manusiawi, sepasang ayah dan ibu akan sangat bersedih, ketika bayi dalam kandungannya atau bayi yang baru dilahirkan, meninggal dunia, menjelang saat-saat kelahirannya. Sebagian orang menyebutnya musibah.
Dan ketika kita menyambutnya dengan “Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun,” kemudian sabar dan ikhlas ‘menyerahkannya’ kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta├íla, sesungguhnya pasangan ayah dan ibunya, khasnya ibu yang mengandungnya, sedang mengikhlaskan buah hatinya sebagai Al Wildan, penghuni surga yang kepadanya tersandang beberapa keutamaan. Karena Allah sudah menetapkannya sebagai ahli surga, penolong bagi orang-tuanya yang beriman, dan kelak mengemban amanah laksana berlian yang disebar di surga, jannatun na’im.
Allah tentu mempunyai rencana di balik peristiwa meninggalnya bayi dalam kandungan atau balita, yang jauh dari akil baligh. Dan sesungguhnya, rencana Allah adalah rencana terbaik. Maakaru wa maa karakallah wahuwa khairul maakirin, manusia merencanakan, Allah juga merencanakan, sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah.
Adalah Rasulullah Muhammad SAW yang menyatakan, bayi yang sudah ditiupkan ruh kepadanya kemudian meninggal, sama dengan bayi yang sudah dilahirkan. Wafatnya menjadi medium syafa’at kepada kedua orang-tuanya. “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah bertanya kepada malaikat,”ungkap Abu Musa al-Asy’ari mengutip sabda Rasulullah Muhammad SAW.
“Kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?” tanya Allah.
Malaikat menjawab, “Ya.”
Allah bertanya lagi, “Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?”
Malaikat menjawab, “Ya.”
Allah bertanya lagi, “Apa yang diucapkan hamba-Ku?”
Malaikat menjawab, “Dia memuji-Mu, lalu dengan ikhlas mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un.”
Lalu, Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku itu satu rumah di surga. Beri nama rumah itu Baitul Hamdi (rumah pujian).”


Lalu dikatakan kepada mendiang anak yang wafat itu, “Masuklah ke dalam Surga.” Anak itu berkata, “Tidak, sampai orang tuaku masuk ke dalam Surga, jannatun na’im.”  Lalu, malaikat menyampaikan kepada anak itu, “Masuklah kamu ke dalam surga bersama orang tuamu.” (Hadits Qudsi – Riwayat Ahmad dari Syurahbil bin Syua’ah).
Mendiang anak itu berjuluk Al Wildan, bentuk jama’ yang mufrad (tunggal)-nya adalah al walid: anak yang baru / menjelang dilahirkan. Menurut Ibnu al Atsir, Al Wildan dijamin masuk surga. Pada hadits lain yang dirawikan Imam Ahmad dan Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, disebutkan, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Anak-anak kecilmu, laksana kunang – kunang (permata) di surga. Dia memegangi ayah dan ibunya tak henti-henti, sampai Allah memasukkan mereka ke dalam surga.”
Adalah Anas bin Ma’ruf, berkesaksian, adalah Rasulullah Muhammad SAW yang menyatakan, kasih sayang Allah kepada anak itu, memasukkannya ke dalam surga. Dan anak yang wafat sebelum tiba saat dilahirkan atau baru dilahirkan, itu dalam hadits riwayat Bukhari dari Abu Sa’id al Khudri, berkat kasih sayang Allah, diamsalkan, laksana dinding bagi dirinya dan orang-tuanya (terutama ibunya) dari petaka – neraka.
Meski bayi yang wafat dalam kandungan atau baru dilahirkan dalam keadaan suci (kullu mauludin yuladi ‘alal fithrah) – atas dasar kesuciannya, meski tidak disyari’atkan untuk dimandikan atau disalatkan, baginya berlaku kebolehan untuk diiringi dengan tahlil, sebagai pengingat bagi manusia yang hidup untuk selalu mengingat bagaimana Allah menciptakan manusia melalui proses luar biasa. Termasuk memberi jalan jihad bagi ibu yang mengandungnya, sampai ia dikeluarkan dari rahim.
Inilah yang mendasari pandangan, bahwa mendiang bayi yang wafat jelang dilahirkan atau baru dilahirkan atau pada masa sebelum akil baligh, merupakan penolong bagi ayah dan ibunya di alam masyhar (sesuai kadar keimanan – keihsanan kedua orang tuanya tersebut).
Merujuk pada pandangan demikian, maka tak ada hal lain yang semestinya dilakukan orang tua yang bayinya wafat dalam kandungan atau beberapa saat setelah dilahirkan, kecuali sabar dan ikhlas. Kesabaran dan keikhlasan itu akan memperkuat nilai keimanan dan meningkatkan ketaqwaan, sekaligus mengantar orang tua tersebut menjadi seorang yang mukhsin. Cara paling sederhana yang mesti dilakukan adalah tidak larut dan berlama-lama dalam kesedihan. Karena membiarkan diri dalam kesedihan, akan dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi ibu.
Selaras dengan itu, setarikan nafas, kedua orang tua, khasnya bagi ibu, tak henti memuja Allah dengan menyadari esensi dari ucapan atau kalimat istirja’ : “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Semua yang berasal dari Allah, kembali kepada Allah jua. Karena anak kita, adalah milik Allah yang dititipkan melalui kita, karena Allah menciptakan fungsi regeneratif pada hamba-Nya, terutama perempuan.


Kemudian tak henti memohon kepada Allah SWT selaku al Khaliq (Pencipta) dan Rabb (Pemelihara), keridhaan atas berpulangnya sang buah hati. Karena sesungguhnya, wafatnya mendiang anak tersebut bukanlah musibah, melainkan pumpunan berkah Allah yang kelak dipetik orang orangtua yang ditinggalkannya.
Perlu disadari, proses kehamilan sampai melahirkan merupakan salah satu bentuk jihad dan ibadah luar biasa bagi seorang ibu. Karenanya, setiap ibu yang mengalami peristiwa yang memancing simbahan air mata ini, berhak memohon pahala dan keberkahan dari hikmah yang tersembul dari peristiwa itu. Kelak, Allah dengan senang hati akan melimpahkan banyak kebaikan dan pahala yang menerima peristiwa itu dengan tulus dan ikhlas.
Apalagi, kelak mendiang anak berjuluk al Wildan, itu merupakan pembawa isyarat kabar gembira, sekaligus penjemput bagi ayah ibunya yang beriman dan bertakwa dan menghantarkan mereka ke surga. Allag dengan karunia-Nya, pasti menempati janji-Nya.
Pengganti anak yang wafat dalam kandungan dan atau meninggal dunia sebelum tiba masa akil baligh adalah surga, jannatun na’im yang disediakan Allah SWT. Dan buah hati yang lekas dihantar pulang ke haribaan Allah SWT, adalah berkah yang menawarkan hikmah, sekaligus manfaat di alam abadi kelak.
Semogalah para ibu dan ayah yang diuji Allah dengan ujian yang sangat luar biasa ini, beroleh keridhaan Allah SWT yang istimewa. Lalu, Allah akan memberikan kepadanya, peluang untuk menyaksikan keindahan abadi yang terpancar dari cahaya Ilahi. InshaAllah..
Share: