Tuesday, 25 June 2013

Processor Intel

 
 
2000: Intel® Pentium® 4 Processor
Intel mengeluarkan prosessor dengan tipe Intel® Pentium® 4 Processor. Processor Pentium IV merupakan produk Intel yang kecepatan prosesnya mampu menembus kecepatan hingga 3,06 GHz. Pertama kali keluar processor ini berkecepatan 1.5 GHz dengan form factor pin 423, setelah itu intel merubah form factor processor Intel Pentium 4 menjadi pin 478 yang dimulai dari processor Intel Pentium 4 berkecepatan 1,3 GHz sampai yang terbaru yang saat ini mampu menembus kecepatannya hingga 3,4 GHz.


2001: Intel® Xeon® Processor
Processor Intel Pentium 4 Xeon merupakan processor Intel Pentium 4 yang ditujukan khusus untuk berperan sebagai computer server. Processor ini memiliki jumlah pin lebih banyak dari processor Intel Pentium 4 serta dengan memory L2 cache yang lebih besar pula.


2001: Intel® Itanium® Processor
Itanium adalah processor pertama berbasis 64 bit yang ditujukan bagi pemakain pada server dan workstation serta pemakai tertentu. Processor ini sudah dibuat dengan struktur yang benar-benar berbeda dari sebelumnya yang didasarkan pada desain dan teknologi Intel’s Explicitly Parallel InstructionComputing ( EPIC ).


2002: Intel® Itanium® 2 Processor
Itanium 2 adalah generasi kedua dari keluarga Itanium


2003: Intel® Pentium® M Processor
Chipset 855, dan Intel® PRO/WIRELESS 2100 adalah komponen dari Intel® Centrino™. Intel Centrino dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar akan keberadaan sebuah komputer yang mudah dibawa kemana-mana


2004: Intel Pentium M 735/745/755 processors
Dilengkapi dengan chipset 855 dengan fitur baru 2Mb L2 Cache 400MHz system bus dan kecocokan dengan soket processor dengan seri-seri Pentium M sebelumnya.


2004: Intel E7520/E7320 Chipsets
7320/7520 dapat digunakan untuk dual processor dengan konfigurasi 800MHz FSB, DDR2 400 memory, and PCI Express peripheral interfaces.


2005: Intel Pentium 4 Extreme Edition 3.73GHz
Sebuah processor yang ditujukan untuk pasar pengguna komputer yang menginginkan sesuatu yang lebih dari komputernya, processor ini menggunakan konfigurasi 3.73GHz frequency, 1.066GHz FSB, EM64T, 2MB L2 cache, dan HyperThreading.


2005: Intel Pentium D 820/830/840
Processor berbasis 64 bit dan disebut dual core karena menggunakan 2 buah inti, dengan konfigurasi 1MB L2 cache pada tiap core, 800MHz FSB, dan bisa beroperasi pada frekuensi 2.8GHz, 3.0GHz, dan 3.2GHz. Pada processor jenis ini juga disertakan dukungan HyperThreading.


9 Agustus 2006: Intel Core 2 Duo
Prosesor-prosesor Intel Core 2 Duo dibangun di beberapa fasilitas manufaktur bervolume tinggi dan canggih di dunia menggunakan proses berteknologi silikon 64-nanometer dari Intel. Intel Corporation meluncurkan prosesor Intel Core 2 Duo yang ditujukan bagi PC dan workstation desktop dan laptop consumer dan bisnis – prosesor dengan teknologi yang dapat menghasilkan kinerja lebih, konsumsi daya lebih kecil, serta keleluasaan pemakaian bagi para penggunanya. “Prosesor-prosesor Core 2 Duo adalah prosesor-prosesor terbaik di dunia,” kata Paul Otellini, Presiden dan CEO Intel. “Terakhir kali industri melihat inti komputer dibuat kembali seperti ini adalah ketika Intel memperkenalkan prosesor Pentium. Prosesor Core 2 Duo desktop berisi 291 juta transistor namun hanya mengkonsumsi daya 40 persen lebih sedikit dan tetap dapat menghasilkan kinerja yang dibutuhkan bagi aplikasi-aplikasi masa sekarang dan mendatang.” Keluarga prosesor yang sudah ditunggu-tunggu ini telah memiliki dukungan luas dengan lebih dari 550 rancangan sistem para manufaktur komputer – paling banyak dalam sejarah Intel. Dengan kekuatan dua inti, atau mesin komputasi, prosesor-prosesor ini bisa mengerjakan banyak pekerjaan dengan lebih cepat. Prosesor-prosesor ini juga bisa bekerja tanpa masalah saat menjalankan lebih dari satu aplikasi, seperti membuat e-mail ketika sedang men-download musik atau video dan melakukan scan virus. Chip-chip inti-ganda ini juga meningkatkan performa beragam aplikasi seperti melihat dan memainkan video definisi tinggi, melindungi PC dan aset-asetnya selama transaksi e-commerce, dan memungkinkan umur batere yang lebih baik untuk notebook-notebook yang lebih ramping dan ringan. Prosesor-prosesor Intel Core 2 Duo memiliki banyak inovasi tingkat lanjut,seperti:
    1. Intel Wide Dynamic Execution – Meningkatkan kinerja dan efisiensi. Masing-masing inti bisa menyelesaikan hingga empat instruksi penuh secara bersamaan menggunakan sebuah pipeline 14-tahap yang efisien
    2. Intel Smart Memory Access – Meningkatkan kinerja sistem dengan menyembunyikan latency memori, yang kemudian mengoptimalkan penggunaan bandwidth data komputer yang tersedia untuk menyediakan data ke prosesor ketika dibutuhkan
    3. Intel Advance Smart Cache – Memiliki sebuah cache atau cadangan memori L2 yang berbagi untuk mengurangi daya dengan meminimalkan “lalu lintas” memori tapi meningkatkan kinerja dengan memungkinkan satu inti untuk menggunakan seluruh cache ketika core yang lain sedang tidak bekerja. Hanya Intel yang menyediakan kemampuan ini di seluruh segmen
    4. Intel Advanced Digital Media Boost – Secara efektif menggandakan kecepatan eksekusi untuk instruksi-instruksi yang banyak digunakan di aplikasi-aplikasi multimedia dan grafis
    5. Intel 64 Technology – Penambahan ke arsitektur Intel 32-bit ini mendukung komputasi 64-bit, termasuk memungkinkan prosesor untuk mengakses memori yang lebih besar
    6. Intel Dynamic Power Coordination – Mengkoordinasikan transisi-transisi Enhanced Intel SpeedStep® Technology dan tahap manajemen daya idle (C-states) secara independen per inti untuk membantu mengirit daya
    7. Intel Dynamic Bus Parking – Memungkinkan penghematan daya dan umur batere yang lebih baik dengan memungkinkan chipset untuk menurunkan daya bersama dengan prosesor dalam modus frekuensi rendah
    8. Enhanced Intel Deeper Sleep dengan Dynamic Cache Sizing – Menghemat daya dengan “menguras” data cache ke memori sistem selama periode ketidak-aktifan untuk menurunkan voltasi prosesor.


17 Agustus 2008: Intel Core 2 Extreme Quad Core
Intel mengeluarkan produk terbarunya yaitu prosessor tipe Intel Core 2 Extreme Quad Core. Produk terbarunya tersebut diberi nama Core 2 Extreme QX9300 processor dengan fitur 45W TDP dan memberikan perhatian khusus pada sisi pendingin atau cooling system. The New Intel Core 2 Extreme QX9300 ini memiliki Core clock set pada 2.53GHz dan mengusung FSB atau Front Side Bus sebesar 1066 serta memiliki cache memory sebesar 12MB. Acara peluncuran prosesor quad core ini hanya 2hari sebelum jadwal IDF 2008 dimulai. Untuk masalah harga, The New Core 2 Extreme ini memberikan fasilitas yang cukup menjanjikan namun harga yang ditawarkan relative murah untuk kemampuan sebuah processor yang luar biasa. Adapun harga untuk mobile processor ini berkisar $1038 dimana pihak Intel telah melakukan sedikit kesepakatan untuk menentukan harga dari processor QX9300 ini. Sebagai perbandingan, Dual Core Mobile Chip dengan fitur sejenis yaitu clock speed sebesar 2.53Ghz dengan harga $340, namun kinerja nya 3x lebih lambat jika dibandingkan dengan QX9300. Tentu saja jika ingin menyamai QX9300 maka penggunanya akan membayar harga yang lebih mahal. Berdasarkan sumber lain dari tim pengembang Quad Core, pengembangan pun akan dilakukan untuk merambah pangsa pasar desktop.


Intel Core 2 Quad Q8200
Intel juga merilis jenis prosesor lain yaitu dengan nama Core 2 Quad Q8200. Prosesor ini memiliki Core clock sebesar 2.33GHz dan direncanakan untuk diperkenalkan pada bulan Agustus tepatnya tanggal 31. Processor ini memiliki FSB atau front side bus sebesar 1333 dan besar cache memory 4MB. Berdasarkan keterangan pihak Intel, harga untuk prosesor ini yaitu sebesar $224, dimana ini merupakan harga pasti dan pihak Intel telah memproduksi ribuan unit prosesor ini untuk dipasarkan secara luas. Sehingga Q8200 ini menjadi processor termurah dikelas quad core processor yang mengusung teknologi 45nm fabrication technology line. Processor Q9300 dengan core clock 2.5GHz dan Processor Q9400 dengan clock 2.66GHz dipasarkan dengan harga $266.


Core i3
Core i3 530 berjalan pada 2.93GHz dan tidak memiliki fitur turbo mode. Core i3 530 akan berjalan pada 1.33GHz pada frekuensi terendah, dan tidak lebih cepat daripada 2.93GHz pada full load. Fitur turbo boost yang hilang merupakan pengorbanan, karena 530 masih memiliki 4MB L3 cache dibagi antara kedua core.


Core I5
Uncore i5 berjalan pada clock 2.13GHz, turun dari 2.40GHz. Kinerja yang harus terluka sedikit dibandingkan dengan simulasi Intel Core i3. Selain Turbo Boost hal lain yang Anda korbankan adalah AES acceleration.Westmere’s AES (AES-NI) menonaktifkan-nya pada semua jenis Intel Core i3. Harus ada beberapa alasan bagi pengguna untuk memilih i5 sebagai gantinya.


Intel Core i7
Intel Core i7 menjadi tak terkalahkan di versi laptop dan desktopnya semenjak kemunculan Core pocessors di 2006. Core arsitektur kini ditantang oleh processors AMD kelas tinggi. Dengan Phenom nya, AMD berusaha raih pangsa pasar dengan strategi harga murahnya. Kini AMD harus extra waspada. Pasalnya Intel telah keluarkan Core terbarunya yakni Core i7 dengan chipset X58. Core i7 akan hadir dengan 3 rasa: Core i7-965 Extreme Edition, Core i7-940, dan Core i7-920. Semua processors tersebut hadir dengan 4 cores, Hyper-Threading, 8MB dengan L3 cache memory. Mereka dibuat dengan teknologi manufaktur 45nm. Semua processors tersebut akan berjalan di 1066MHz. Di seri 965 Extreme Edition (EE) akan berjalan pada kecepatan 3,2 GHz .Semu seri EE ini akan mudah untuk di overcloack. Arsitektur baru Intel ini dilengkapi soket LGA 1366. Sayang Soket LGA 775 terdahulu yang suport untuk CPU Core 2, kini sudah tidak kompatibel bagi Core i7.


Core i9
Core i9 adalah processor terbaru intel, dengan spesifikasi memiliki 6 core dengan kecepatan 2.8 Ghz dengan L2 256KB X 6 dan L3 12MB. Procesor Gulftown ternyata lebih hemat power dibanding Corei 7 dan Core 2 Quad pada kecepatan yang sama. Tidak itu saja, Core i9 lebih dingin hampir 8 derajat dibandingkan Core 2 Quad, Core i5 dan Core i7. Untuk gaming kelas FPS, Core i9 memiliki angka relatif. Test benchmark game FarCry 2 dan Unreal Tournament dipegang oleh Core i9, disusul Core i7, Corei 5, Core 2 Quad dan terakhir Phenom II X4. Game Left 4 Dead unggul oleh Core i5, diisusul Core 2 Quad, Phenom II X4, Core i9 (Gulftown) dan terakhir Core i7

Sekian penjelasan tentang jenis jenis Processor Intel, Semoga bermanfaat

Share:

Thursday, 20 June 2013

Malang, 20 Juni 2013

Terima kasih ku ucapkan ...
Kepada kekasihku yang telah menebus penantianku selama dirimu membuatku menunggu ...
Ku berharap kita tuk selamanya senantiasa bersama, Wallahu a'lam ...

I hope so.
We get married, soon ...
Aaaaamiin ...


Share:

Thursday, 13 June 2013

Asmara Terindah

Saat bunga tumbuh
Tanda hidup takkan berlalu
Sajak cinta yang ku tuliskan untukmu
Tak terhapus oleh waktu

Ada yang berisik mesra
Sudah ku temukan bahagia
Kaulah asmaraku yang terindah
Dan jawaban pertanyaan

Bila esok kan datang untukku
Haturkan rasa rinduku
Ku jemput matahariku
Courtesy of liriklagu.asia
Sosok bidadari yang berlabuh
Jauh di dasar hatiku
Tidakkah juga kau rindu

Bila esok kan datang untukku
Haturkan rasa rinduku
Ku jemput matahariku

Sosok bidadari yang berlabuh
Jauh di dasar hatiku
Tidakkah juga kau rindu

Bunga adalah bahasa rasa
Yang tak dapat ku gambarkan
Lewat kata-kata

Cinta seluas jagad samudera
Tuhan tahu yang ku rasa
Kaulah segalanya

Haaa.. haaa... uu...
Kaulah segalanya

Haaa.. haaa... uu...
Kaulah segalanya



*Andai kau nyanyikan ini untukku..
Share:

Monday, 20 May 2013

Orang ‘Pikiran Kecil’, Orang ‘Pikiran Sedang’, Orang ‘PikiranBesar’, Yang Manakah Kita?

Salah satu hal menarik jika kita pernah mendengar dan mengamati perkataan dari Roosevelt, mantan Presiden USA yang mengatakan : "Small Minds discuss people, Average Minds discuss events, Great Minds discuss ideas" atau artinya“Orang ‘berpikiran kecil’ biasa ngomongin orang lain, orang ‘berpikiran sedang’ biasa ngomongin sesuatu, dan orang ‘berpikiran besar’ biasa ngomongin ide.”

Sebenarnya  kalimat itu bisa kita anggap ringan dan biasa-biasa saja. Tapi coba kita pikirkan lebih  mendalam dan disaat kita tersadar ternyata kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat  dalam’ sekali.

Maka sebagai akibatnya...
PIKIRAN KECIL akan menghasilkan GOSIP.
PIKIRAN SEDANG akan menghasilkan PENGETAHUAN.
PIKIRAN BESAR akan menghasilkan SOLUSI.

Ketiga jenis pikiran ini ada di dalam setiap otak kita. Pikiran mana yang lebih mendominasi dan selalu kita pergunakan, begitu pulahlah hasil yang akan dikeluarkannya.

Kalau setiap saat otak kita dipenuhi oleh ‘pikiran kecil’, maka kita akan selalu asyik dengan urusan orang lain, namun tidak menghasilkan apa-apa, kecuali perseteruan. Tetapi bila  pikiran besar’ yang mendominasi, maka ia akan aktif menemukan terobosan baru.
                                                                                   
Umumnya ada tiga tipe jiwa manusia. Pertama, orang yang sering menggunakan ‘pikiran kecil’ dan biasanya paling suka ngomongin orang lain. Tipe ini adalah tipe manusia yang relatif cukup banyak dan  sering kita temukan. Baik dari lingkungan kita, atau bahkan dalam diri kita sendiri.

Fokus utama perhatian orang yang sering menggunakan ‘pikiran kecil’ adalah ‘orang lain’. Ia sibuk mengomentari orang lain. Orang yang sering menggunakan ‘pikiran kecil’  biasanya ketika bertemu teman lama, teman baru, tetangga, kolega, rekan bisnis, keluarga, atau siapapun, waktunya hanya habis untuk membicarakan hal-hal sepele yang tidak perlu, atau hal yang sudah diketahui umum, dan tidak memberikan energi positif.

Jika dilakukan content of analysis dari pembicaraannya, elemen yang terkandung di dalamnya meliputi obrolan yang tidak bermutu, kekesalan, kekecewaan, penyesalan, komplain, hal-hal masa lalu dan masa kini yang menyakitkan hati. Ia akan selalu mengulang-ngulang terus apa yang dialami. Padahal, inti ceritanya ya itu-itu saja. Mungkin hal ini sering kita alami pada diri sendiri.

Ada sebuah cerita dimana seseorang yang mengalami kesulitan disaat beradaptasi pertama kali bekerja dan mendapat tugas di sebuah perusahaan. Sering sekali  ia bercerita ke beberapa teman-temanya tentang kesulitan yang ia hadapi. Namun, setelah berkali-kali bercerita, ternyata ia menyadari, ada pola yang sama dari ceritanya disaat seorang teman dekatnya memberi masukan dan mengatakan bahwa, “apa yang dialaminya tersebut ya memang begitulah kejadiannya dan memang sudah banyak orang lain yang ikut dan pernah merasakannya. Terima saja, dan jangan fokus ke semua komplain, keluh-kesah, dan semua  perlakuan tak menyenangkan”, begitu anjuran yang disampaikan sahabatnya tersebut.

Sahabatnya tersebut  menganjurkan untuk fokus ke pembicaraan mengenai pengembangan ide besar. Ide besar dengan dampak dan kontribusi yang besar pula. “Untuk apa terlalu sering membicarakan hal yang tak bermanfaat karena akan mengerdilkan diri kita sendiri”, begitu nasehat yang diberikan sang sobat.

Coba kita renungkan sejenak, apakah kita memang sering menyalahkan orang lain. Kita telat ke kantor atau telat datang ke suatu meeting, kita beralasan ‘jalanan macet’. Kita selalu mencari faktor eksternal di luar diri kita untuk kemudian kita jadikan alasan, kambing hitam atau bahkan pembenaran terhadap tindakan kita.

Hidup yang dijalani seperti itu takkan mengantarkan kita pada akselerasi cepat menuju kesuksesan. Sebaiknya, jika kita mencari faktor kesalahan itu dari internal diri kita, maka hal ini akan lebih baik untuk pengembangan diri kita ke depan. Sehingga, alasan yang muncul ketika kita telat adalah karena tidak berangkat lebih awal, karena komitmen kita lemah dalam berjanji, karena memang disiplin kita buruk. Don’t blame others. Itu intinya.

Kedua, tipe orang yang sering menggunakan ‘pikiran sedang’. Orang seperti ini  biasanya suka  ngomongin sesuatu. Tipe orang seperti ini lebih mendingan daripada tipe pertama  tadi.

Fokus utama pembicaraannya sudah mulai berubah, tidak lagi membicarakan orang lain, komplain, keluh-kesah, apalagi membahas hal negatif.

Namun, ‘sesuatu’ itu tidak pula mencerminkan ide besar. ‘Sesuatu’ itu adalah hal biasa, menyerempet ke hal-hal positif, lebih pasti, lebih riil, tapi dari sisi kebermanfaatannya di masa mendatang kurang terasa. Tipe orang seperti ini tipe yang serba tanggung sebenarnya. Kalau bahasa gaulnya, kentang (kena tanggung).  

Ketiga, tipe orang yang sering menggunakan ‘pikiran besar’. Orang seperti ini biasanya ngomongin ide. Ini tipe ideal yang pasti sangat diinginkan banyak orang dan berharap masuk dalam  kualifikasinya.

Tipe orang seperti ini biasanya selalu membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan ide-ide untuk mengembangkan diri, mengembangkan perusahaan tempatnya bekerja maupun lingkungannya serta terus berusaha melaksanakan cita-cita besar nan ambisius, namun tetap disesuaikan dengan kapabilitas dirinya sendiri. Misalnya, seorang scientist membicarakan tentang penelitian atau penemuan baru di bidangnya.

Contoh yang tepat untuk menggambarkan tipe orang jenis ini adalah ketika ada orang berkeluh kesah padanya, ia akan selalu berusaha mengalihkan pembicaraan pada sesuatu yang lebih optimis, lebih berbobot, dan selalu saja berkaitan dengan pengembangan ide.

Tipe orang jenis ini akan selalu concern dan konsistens mengembangkan ide. “Nothing but idea”, mungkin itu yang selalu gentayangan di kepalanya.
Orang yang selalu concern pada pengembangan ide, akan berusaha mengurangi percakapan yang tidak penting (terkait orang lain) dan niscaya akan menggapai sukses pada waktu yang relatif singkat.

Bagaimana dengan kita?. Jangan takut dan jangan khawatir. Apapun profesi kita, tak ada salahnya mencoba prinsip yang dipegang oleh orang yang sering menggunakan “pikiran besar” dimaksud.

Memperbanyak membicarakan ide bagi ibu rumah tangga yang sedang arisan, tentu bagus. Bisa bikin usaha catering bersama, atau kegiatan lainnya.

Sebagai mahasiswa, perlu juga menelurkan ide besar. Jangan mau jadi mahasiswa biasa. Kenapa tak jadi mahasiswa luar biasa saja jika waktu yang diberikan Allah tetap sama saja, 24 jam sehari?

Kalau kebetulan ada dari kita yang mendapat amanah sebagai birokrat, bisa juga berperang ide dengan memutus mata rantai birokrasi yang tidak efektif. Begitu juga dengan kita-kita yang kebetulan menjadi operator, engineer maupun bidang tugas lainnya.

Ide dan inovasi adalah makanan sehari-hari yang harus selalu berseliweran di kepala kita jika ingin tetap maju dan berkembang pesat.

Jadi, semua orang bisa membentuk karakter dengan selalu concern pada pembicaraan ide, bukan pada hal remeh-temeh dan kurang bermanfaat. Tergantung kitanya masing-masing sebagai pemilik hati, mulut, mata, telinga dan organ lainnya. Akan diarahkan kemana pemanfaatan onderdil gratisan yang diberikan Tuhan kepada masing-masing kita umatNya.

Memang, selalu membicarakan ide saja tentu akan membuat hidup tak ada dinamikanya. Toh, kita bukan robot. Boleh saja ngobrol santai seputar hal remeh-temeh. Tapi porsinya dikurangi sedikit demi sedikit.

Jika melihat atau bertemu dengan hal-hal kecil, remeh-temeh, kita amati dulu, perhatikan dengan seksama, cek dari berbagai sisi (kiri-kanan-atas-bawah-depan-belakang), baru disimpan. Jangan langsung ‘dimakan’ mentah. Cukup endapkan saja dulu di kepala, tapi jangan dibahas-bahas lagi. Lupakan sesaat jika memang tidak ada keuntungan dan manfaat ketika dibicarakan saat itu. Bisa saja nanti di kesempatan lain, informasi remeh-temeh itu ada gunanya, bahkan bisa jadi menolong kita.

Bukan untuk menggurui maupun mengatur jalannya pikiran orang lain, ada baiknya mulai saat itu, setiap kita akan mengawali pembicaraan, selalu saja munculkan pertanyaan kritis seperti ini, “Sebentar, ini pembicaraan (level) orang ‘pikiran kecil, ‘pikiran sedang’, atau ‘pikiran besar’?”.
                                              
Biasanya kita pasti akan merasa lucu dan tertawa disaat akan mempraktekkannya. Tapi dengan keinginan yang muncul dari dalam diri kita sendiri dan membiasakan pembicaraan yang bernas, penuh ide-ide brilian, mengurangi pembicaraan sepele yang tidak perlu, tentu saja akan meningkatkan posisi kita untuk masuk kedalam kualifikasi orang-orang berkarakter yang selalu menggunakan ‘pikiran besar’. Pembiasaan ini memang dipandang perlu karena kata orang bijak, “Karakter terbentuk dari Kebiasaan yang Terus Berulang”.

Kalau saja orang Indonesia sudah membudaya dalam ‘melempar’ ide, bergelut dengannya, dan berusaha mengaplikasikannya, tentu negara kita akan lebih cepat keluar dari keterpurukan. Begitu juga dengan perusahaan kita tercinta pasti ini akan maju dengan pesatnya.

Jika terjadi “Perang ide dimana-mana”, apakah ditingkat level bawah maupun level atas dan setiap orang selalu bergelut dengan ide-ide konstruktif dan berusaha menerapkannya (memang itulah inti persaingan di era globalisasi), maka niscaya kemampuan perusahaan dalam peningkatan omzet penjualannya dan pemenuhan target deliverinya akan meningkat drastis. Dari yang tadinya masih dibawah 2T, mudah-mudahan akan meningkat menjadi 5T atau syukur-syukur bisa menyamai BUMN lainnya yang memiliki omzet penjualan cukup tinggi.

Kalau itu tercapai pasti akan berdampak kepada peningkatan kesejahteraan kita nantinya. Siapa tahu saja presentase kenaikan gaji kita tidak lagi bermain di range 10 % - 15 % melainkan jauh diatas range tersebut atau insentif yang kita terima setiap tahunnya bisa lebih dari 3X sama halnya dengan beberapa BUMN yang sudah mampu memberikan kesejahteraan kepada karyawannya sebanyak 30X THP pertahunnya.

Tentu saja mimpi dan angan-angan tersebut kembali berpulang kepada kita semua. Apa dan bagaimana tujuan bersama yang kita inginkan dengan menggunakan pikiran kita masing-masing sebagai motor penghasil ide-ide briliant dan applicable.

Dari ketiga kategori tipe orang di atas, yang mana menjadi pilihan kita?. Pilih jadi orang yang senang menggunakan ‘pikiran kecil’, orang ‘pikiran sedang’ atau orang yang selalu menggunakan  pikiran besar’?.

Peribahasa mengatakan, “Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan”.
Share:

Friday, 17 May 2013

Kisah Seorang Polisi Yang Menilang Sri Sultan HB IX



Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis, pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir. Becak dan delman amat dominan masa itu, persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir.

Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam berplat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya.

Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi, brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.
“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes

Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.
“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu. “Ya Allah … sinuwun!” kejutnya dalam hati .

Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna. “Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Dirinya tak habis pikir, orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun sultan menolak.

“ Ya .. saya salah, kamu benar, saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.
“ Jadi …?” Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .
“Em .. emm .. bapak saya tilang, mohon maaf!” Brigadir Royadin heran, sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.
“Baik .. brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang.

Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya.

Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.
Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut, Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi pekalongan, nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin, apa yang kamu lakukan .. sa’enake dewe .. ora mikir .. iki sing mbok tangkep sopo heh .. ngawur .. ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

“Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun .. biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo sinuwun?”.  Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.
“Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa, beliau ngaku salah .. dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia .. ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang .. ngawur .. jangan ngawur …. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja .. memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes.

Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaan sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa, satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin …. minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .
“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.
“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan, ini hanya merepotkan diri saja.
“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.
“Ngawur … Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ?.Pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris, disodorkan surat yang ada digenggamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan. Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

“Mohon bapak sampaikan ke sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !”

Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX, Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010 kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik.  Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya, anak dan cucu-cunya.

Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya, walaupun memang pangkatnya tak banyak bergeser akibat terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran.

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.

Dari cerita diatas ada pesan moral yang dapat kita petik, yaitu :
1.       Jika posisi kita adalah sebagai bawahan, janganlah takut untuk melakukan koreksi ataupun memberitahukan pimpinan bahwa kebijakan atau langkah keputusan yang dilakukan pimpinan kita adalah salah atau menyalahi prosedur (SOP) atau ketentuan perundang-undangan yang mengikat lainnya. Jika kita tetap membiarkannya maka sama saja halnya kita ikutan mendorong pimpinan itu untuk terjerumus kedalam lubang yang sebenarnya tidak kita inginkan bersama. Ya, istilahnya BERANI KARENA BENAR, walaupun memang pahit hasilnya bagi kita sendiri seperti yang dialami oleh Brigadir Royadin tersebut diatas (pangkatnya tak banyak bergeser akibat terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran).
2.      Jika posisi kita sebagai pimpinan, seyogyanya apa yang dilakukan oleh Sri SultanHB IX (Sadar atas kesalahannya dan tidak menunjukkan arogansinya bahwa sebenarnya sebagai salah satu pemegang tampuk kekuasaan tertinggi di wilayahnya bisa saja beliau marah dan mengumpat sang brigadir polisi karena berani menghentikan kendaraannya dan  mengatakan dia bersalah) dapat menjadi sebuah pelajaran berharga dalam melaksanakan amanah yang diemban. Apalagi ternyata Sri Sultan malah berniat memberikan penghargaan (mengusulkan kenaikan pangkat) terhadap orang yang memberikan masukan ataupun kritik terhadap kesalahan yang dilakukan Sri Sultan.
Ya mudah-mudahan saja cerita diatas dapat menginspirasi kita semua terlepas dari apapun peranan kita di unit kerja masing-masing. Apakah kita sebagai bawahan ataupun pimpinan?. Dan yang terpenting perlu kita ingat adalah hidup ini ibarat roda berputar, kadang berada diatas dan suatu saat akan berada dibawah. Sudah banyak bukti yang mengatakan bahwa seseorang yang tadinya menjadi bawahan, seiring berjalannya waktu malah menjadi pimpinan dari mantan pimpinannya terdahulu.
Kiranya siapapun yang berperanan saat ini menjadi pimpinan dan bawahan dapat menjadi sebuah ikatan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) dan bersinergi dalam mencapai sebuah keberhasilan bersama.
Semoga saja....
Share: