Thursday, 15 October 2015

Sering Dipakai Keseharian, Tapi Gag 'Ngeh' Artinya

1. WC = Water Closet (Inggris)
Artinya: khusus , tempat buang kotoran, tempat buang hajat besar.
2. BH = Buste Houder (Belanda)
Artinya: Penyangga payudara, kutang wanita.
3. OK = All Correct (Inggris)
Tapi dalam perkembanganya tulisan OK disesuaikan dengan bahasa Indonesia yaitu C dibaca K. Artinya: semuanya beres, bereslah (semuannya), tidak ada, tidak terjadi apa-apa.
4. VIP = Very Important Persons (Inggris)
Artinya: orang penting, pejabat, orang besar, orang gedean, pembesar.
5. NN = Nomen Nescio (Latin)
Saya kira kepanjangan dari ”no name”, ternyata bukan. Artinya: Zonder nama, tanpa nama, tidak ada namanya, tanpa menyebutkan namanya.
6. LASER = Lingh Amplifiation by Stimulated Emmission of Radiation (Inggris)
Artinya: sinar yang dapat menembus benda-benda besar.
7. VW = Volk Wagen (Belanda)
Artinya: Kendaraan rakyat, kereta rakyat, alat pengangkutan untuk rakyat.
8. Nazi = National Sozialismus (Jerman)
Artinya: Golongan aliran politik di negeri Jerman sebelum perang dunia II yang berhaluan nasionalis sosialis-semboyan yang terkenal adalah ein volk, ein reich und, ein fuhrer (satu bangsa, satu pemerintahan,satu pemimpin).
9. HVS = Hout Vrij Schrift (Belanda)
Artinya: (nama) jenis kertas yang biasanya dipakai untuk buku tulis.
10. NB = Nota Bene (Belanda)
Artinya: tambahan-tambahan yang biasanya dicantumkan pada akhir surat.
Sumber: Kamus Umum Populer Bahasa TV, Majalah, Surat Kabar dan Mass Media lainnya-400 hal. Y.P Puspa.
Share:

Friday, 2 October 2015

SAVE US, RIAU AND THE OTHERS ...

Akhir-akhir ini Indonesia dilanda musibah yang jarang terjadi. Hanya wilayah tertentu yang terkena dampak ini. Perluasan lahan, membuka lahan baru yang akibatnya menyebabkan hampir semua wilayah terkena dampaknya.


Pembakaran hutan, yang seyogyanya hutan sebagai resapan air, lhaa kok malah dibakar. Tanahnya gambut pula. Akhirnya asap dari kebakaran tersebut menjadi-jadi sehingga kabut asap melanglang dari pulau Sumatra hingga Kalimantan. 


Makin terasa sedih mendengar berita ini. Apalagi ada banyak saudara yang bermukim disana. Mertua, saudara-saudara ipar, ponakan yang masih berumur kira-kira 2 bulan. Sesering mungkin kami berkomunikasi dengan mereka ingin tahu kabar realitanya di rumah dan sekitarnya. Ponakan kami yang masih bayi, menangis tak ada hentinya jika kabut asap semakin menebal. Saking tebalnya hingga untuk bernapas aja susah. Ibu mertua yang berprofesi sebagai guru, tetap masuk sekolah meskipun para murid diliburkan. Belum ada hujan. Langit biru masih gelap. Matahari belum mau menampakkan sinarnya. 




Selain kabut asap yang mengaburkan pandangan mata, udaranya pun jauh dari kata bersih. Di dalam kota-kota besar khususnya kota Pekanbaru terdapat ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) 


Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) (Air Pollution Index, disingkat API) adalah laporan kualitas udara kepada masyarakat untuk menerangkan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara kita dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan kita setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam atau hari. Penetapan ISPU ini mempertimbangkan tingkat mutu udara terhadap kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika.
ISPU ditetapkan berdasarkan 5 pencemar utama, yaitu: karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), Ozon permukaan (O3), dan partikel debu (PM10).
Di Indonesia ISPU diatur berdasarkan Keputusan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Nomor KEP-107/Kabapedal/11/1997.
Tabel Indeks Standar Pencemar Udara
ISPUPencemaran Udara
Level
Dampak kesehatan
0 - 50Baiktidak memberikan dampak bagi kesehatan manusia atau hewan.
51 - 100Sedangtidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang peka.
101 - 199Tidak Sehatbersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang peka atau dapat menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.
200 - 299Sangat Tidak Sehatkualitas udara yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.
300 - 500Berbahayakualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi (misalnya iritasi mata, batuk, dahak dan sakit tenggorokan).

Akhir Desember 2015 mendatang, kami akan berkunjung ke Pekanbaru dan Rao untuk bersilaturahmi. Semoga perjalanan yang memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan menggunakan transportasi udara senantiasa aman dan kami pun selamat sampai tujuan, serta kunjungan kami disambut dengan udara segar menyejukkan. Aamiin..




Share:

Saturday, 15 August 2015

Membayar Hutang Silaturahmi

Jawa Minang, bersatunya budaya dan kehidupan bermula di tahun lalu 2014. Pernikahan yang diselenggarakan di Jawa cukup meriah dengan kehadiran anggota keluarga dari Pekanbaru tepatnya. Dan diselenggarakan pula pernikahan balasan atau istilah lainnya “ngunduh mantu” ke seberang pulau Jawa sana. Makin mengkhawatirkan kantong jika melihat antusias keluarga yang ingin menjadi perwakilan untuk ikut setor muka di acara pernikahan balasan tersebut. 7 orang yang akhirnya melaju dari Bandara Abd. Saleh menuju Bandara Sultan Syarif Kasim. Tarik nafas panjang ketika kami melihat harga tiket transportasi udara ini. Proses pencarian tiket pesawat termurah kami lakukan dengan searching situs maskapai langsung dan membandingkan dengan harga di situs airpaz. Alhasil harga terendah dari situ maskapai kami temukan juga di harga terendah di situs airpaz. Puas juga dapat harga itu.




Kali pertama kami menggunakan jasa transportasi udara yaitu maskapai Garuda. Cukup memuaskan juga layanannya. Hingga keluarga yang kami ajak terkesan dengan pengalaman itu. Saat itu kami booking pesawat dengan rute satu kali transit. Malang – Jakarta – Pekanbaru. Beda halnya dengan kembali ke Malang, kami menggunakan maskapai Lion Air dengan rute Pekanbaru – Jakarta – Malang.
Alhamdulillah penyelenggaraan ngunduh mantu berakhir lancar. Meskipun pada saat itu kami yang berasal dari Malang – Jawa Timur yang suhu lingkungannya cukup dingin sulit untuk beradaptasi dengan suhu kota Pekanbaru yang panasnya cukup menyengat. Hal inilah, membuat kami keluarga dari Malang tidak kunjung berhenti untuk meneguk air. Keceriaan belum berakhir. Usai acara, di hari berikutnya kami berkunjung wisata ke Bukittinggi. Dalam perjalanan, kami tidak melewatkan untuk momen berfoto ria. Melewati kelok sambilan dnegan bangunan baru yang berdiri tegak menjulang. 


 Dalam perjalanan, kami tak luput akan lelah. Sembari istirahat di kedai pinggir danau. Kami pun menyeruput minuman dan makanan kecil yang ditawarkan di kedai tersebut.

 
Perjalanan kami lanjutkan menuju Bukittinggi Sumatra Barat. Waah akhirnya sampai juga. Lumayan lapar juga, dan kamipun mampir ke salah satu warung yang pastinya menjajakan menu masakan padang. Penyajiannya berbeda dari warung padang yang pernah kami datangi di Jawa.

Perut kenyang, saatnya cuci mata. Tujuan kami adalah ke Jam Gadang. Tak lupa kami mengabadikan momen yang tak terlupakan ini. 


Depan alun-alun ini, ada sebuah pasar. Sering disebut dengan Pasar Ateh. Disini tempat wisatawan berbelanja. Ada yang jual kain, souvenir Sumbar, makanan khas yang cocok bua dijadikan oleh-oleh tuk kerabat saat kembali ke Malang nanti. 


Hari berikutnya kami jalan-jalan menuju tempat wisata Goa Jepang, tapi sebelumnya kami menyantap sarapan terlebih dahulu dengan makanan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya yaitu pical sikai. Seperti gado-gado gitu. Pakai bumbu kacang, banyak sayurannya, dan ada lontong serta kerupuknya gag ketinggalan. Ngarai Sianok dan Goa Jepang, antusias kami bayar dengan menelusuri goanya. Serem juga jika masuk tanpa teman. 


Lanjut dengan destinasi berikutnya yaitu Benteng Fort De Kock dan Kebun Binatang Bukittinggi. Di dalamnya ada rumah gadangnya juga. Foto-foto lagi.




Berhubung waktu untuk berlibur sedikit, maka tujuan wisata terakhir adalah puncak Lawang. Puncak Lawang berdekatan dengan Danau Maninjau. Sebenarnya ada saudara dari suami yang bertempat tinggal disana. Ingin sekali berinap, tetapi sayang keadaan belum memungkinkan. Semoga ada hari lain yang bisa membayar hutang kami berkunjung kesana di lain waktu.


Selain berfoto dan beristirahat melihat pemandangan elok dan berangin sepoi-sepoi di Puncak Lawang, adek dan suami menyempatkan tuk menikmati dengan ikut wahana flying fox. Yuhuuu...



Benar-benar menikmati sekali liburan kali ini. Kalo dibilang liburan sih tidak juga. Karena ada hajat. Seperti yang ku bilang di awal, sambil menyelam minum air. Oleh-oleh pengalaman dan craft serta camilan khas pekanbaru dan bukittinggi menjadi momen tidak terlupakan. Apalagi perjalanannya menuju kesana. Karena saking baru pertama naik pesawat. 

Alhamdulillah, kami dianugerahi seorang puteri cantik berumur 6 bulan. Perkembangannya sungguh cepat. Dari tengkurap, ngesot mundur, hingga sekarang bisa maju meski masih seperti ulat gerakannya. Lucu sekali melihat tingkahnya. Turun tanah, menjadi budaya tersendiri oleh keluarga suami. Jikalau bisa, malah seharusnya turun tanah dilakukan disana, Rao daerah kelahiran kakek (ayah dari suami). Percaya tidak percaya, ada saja kemungkinan sakit jika tidak turun tanah disana. Kalau diambil sisi positifnya, anggap saja silaturahmi. Toh setahun yang lalu, kami belum sempat untuk bersilaturahmi ke keluarga besar suami. Bertemu dengan kakek nenek dan saudara dari suami di Pekanbaru, dan pergi bersama ke Rao dan tempat lainnya.


Share:

Wednesday, 1 July 2015

BERPIKIR POSITIF SAJA NGGAK CUKUP !!!

Kamu pasti pernah mendengar tentang pentingnya berpikir positif. Bahkan mungkin, hampir semua umat manusia yang hidup di abad ini pernah mendengarnya. Dan menerapkannya. Dan memetik keuntungan darinya.

Yup. Berpikir positif memang baik. Penting dan bermanfaat, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain, demikian dikatakan oleh para ahli. Sayangnya, berpikir positif pun mempunyai sisi lemah yang dapat merusak keseimbangan hidup kita.

Hidup adalah sebuah keseimbangan. Selalu ada sisi bertentangan untuk setiap bidang kehidupan. Kerja keras yang tak diimbangi istirahat yang cukup bisa berakibat fatal. Makanan enak tanpa diimbangi olahraga mengakibatkan banyak orang mati sebelum waktunya. Gaya hidup mewah tanpa diimbangi filosofi hidup hemat membuat kita bangkrut. Bahkan cinta tanpa disiplin akan menghasilkan anak-anak yang manja dan suka memberontak. Semua bidang menuntut keseimbangan dalam hidup kita!

Jika kamu menganggap berpikir positif adalah segalanya, kamu perlu mempertimbangkannya kembali. Berpikir positif menuntut kita memandang segalanya dari sisi positif. Namun bagaimana dengan sisi negatifnya? Apakah kita lantas bisa mengabaikannya? Berikut ada 7 hal lain yang perlu kita pertimbangkan selain berpikir positif..

1. Berpikir Benar
Sejujurnya, agak susah menjabarkan tentang berpikir benar, karena kebenaran di jaman ini telah bergeser nilainya. Kebenaran selalu bersifat relatif, tergantung siapa yang memandang. Kita bisa bicara dengan dua orang yang bermusuhan dan masing-masing akan mengatakan diri mereka benar, lengkap dengan segala penjelasan mendetail tentang kisah menurut versi mereka. Kamu perlu mengikuti kata hatimu dalam hal ini. Definisikan apa yang benar sesuai dengan nilai-nilai dalam hidupmu. Jika 'benar' dalam lingkunganmu berarti mengurangi hak orang, kamu tahu apa artinya. Jika benar berarti membela yang bayar, memanjat ke atas dengan menginjak leher orang, menjatuhkan orang lain dengan segala cara, atau hal-hal semacam itu, kamu harus memutuskan apa yang akan kamu lakukan. Jika perlu, keluar dari sana dan cari lingkungan yang bisa membuatmu bertumbuh jadi lebih baik!

2. Berpikir Mulia
Apa komentarmu ketika melihat orang mengucapkan kata-kata kasar yang tak sepantasnya diucapkan? Biasanya sih, dengan heran dan takjubnya kita akan mengatakan 'Duh, penampilannya keren, jabatannya oke tapi mulutnya kok nggak berpendidikan ya..'.

Rupanya, pendidikan itu mempengaruhi kelakuan seseorang. Diharapkan, dengan semakin terdidiknya seseorang, akan semakin tinggi pula martabat dan sikap moralnya. Namun dalam kenyataannya, tidaklah selalu demikian. Banyak orang mengaku berpendidikan, namun sikap mereka menyatakan sebaliknya. Ternyata, karakter jauh lebih penting daripada pendidikan. Kamu bisa mencari ilmu sampai ke ujung dunia, tapi tanpa karakter dan nilai-nilai yang baik dalam hidup, kamu akan tetap diragukan orang. Kamu tidak semata dinilai dari tampilan atau rupa, atau berapa deret nol yang tertera di buku tabunganmu, tapi karakter dan integritasmu menentukan penghargaan orang terhadap dirimu yang sesungguhnya. Jangan hanya berpikir positif, berpikirlah mulia.

3. Berpikir Adil
Sahabatmu nyata-nyata bersalah, sementara orang yang kamu musuhi ternyata benar. Siapa yang akan kamu bela? Akankah kamu tetap mengatakan 'Hidup persahabatan!' dan menelantarkan nilai-nilai pribadimu? Keadilan mungkin tidak berpihak bagi banyak orang sementara ini. Namun itu bukan alasan bagi kita untuk tidak bersikap adil. Kejarlah keadilan. Berikan pada tiap orang apa yang menjadi haknya. Bersikaplah adil walaupun hidup tampaknya tidak adil bagimu, karena selama bumi ini ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai. Apapun yang kamu tabur akan kamu tuai. Ini adalah hukum alam yang tak dapat dibatalkan, jadi kamu perlu menetapkan bagi dirimu untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat adil.

Berpikir adil juga menuntutmu untuk menempatkan diri dalam perspektif yang tepat. Jangan hanya berpikir positif. Berpikir jugalah dengan kewaspadaan. Jangan menerima segala sesuatu sebagaimana adanya (mentah-mentah), karena seringnya, yang tampak bukanlah yang sebenarnya. Orang yang hanya berpikir positif (tanpa kewaspadaan dan kebijaksanaan) akan mudah dibohongi. Pikirkan juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi sebelum kamu mengambil keputusan. Mungkin niatmu baik. Tapi tidak demikian halnya dengan banyak orang lain di sekitarmu. Sangat perlu untuk menguji setiap kalimat atau tindakan atau sikap yang diarahkan pada kita.

4. Berpikir Suci
Pacarmu mengajakmu begituan dan kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu pikir, berpikir positif bisa membantumu memecahkan masalah. Tunggu dulu. Berpikir positif? Positif bagi siapa? Bagi kamu? Bagi dia? Bagi hubungan cinta kalian? Lalu bagaimana dengan masa depanmu? Calon pasangan hidupmu? Orang tuamu? Integritasmu? Dalam hal ini, berpikir suci sepertinya lebih penting ketimbang 'berpikir positif', teman..

5. Memikirkan yang Manis (menyenangkan)
Prinsipnya, jika sesuatu tidak menyenangkan bagi semua pihak, maka jangan pikirkan atau lakukan hal itu. Buang semua hal buruk dari pikiran, hati dan jiwamu. Lakukan detoksifikasi dalam batinmu. Suatu saat, kamu akan berterima kasih pada dirimu sendiri karena telah melakukannya. Kamu akan menjadi lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih sejahtera karenanya (ingat prinsip hukum ketertarikan?). Apapun yang kamu pilih untuk tinggal dalam pikiranmu, akan memenuhi hidupmu, dan itulah yang menjadi takdirmu. Kita sendiri yang menentukan takdir kita, kawan. Kita juga yang menentukan bagaimana kita akan mengisi dan menjalani hidup yang telah Tuhan berikan pada kita!

6. Berpikir Kreatif
Jika kamu menganggap hidup telah memperlakukanmu dengan tidak adil, pikirkan sebaliknya. Apa yang akan terjadi jika pengalaman buruk tak terjadi padamu? Akankah hidupmu berbeda? Akankah kamu menjadi pribadi yang lebih baik? Akankah kamu berkembang? Kadangkala, butuh pemikiran yang kreatif dan luas untuk memahami segala yang terjadi dalam hidup.

Jangan pernah menyalahkan diri atau keadaan, tapi belajarlah darinya. Kamu adalah murid yang harus terus belajar dan diuji di sekolah kehidupan agar naik tingkat, bukannya korban yang selalu menangis dan meratapi nasib. Kamu takkan belajar apapun dari tangisan dan keluh kesahmu.

Jika ada berita yang perlu didengar tentang kamu, maka berita itu hendaklah sesuatu yang sedap didengar, yang timbul sebagai hasil pikiran kreatifmu yang bermanifestasi dalam seluruh tindakan dan perkataanmu.

7. Berpikir Luar Biasa
Sudah menjadi kecenderungan kita untuk berpikir standar. Jika sebuah ide ditolak, biasanya kita akan mundur dan mencari cara yang tepat agar ide tersebut lebih diterima. Padahal, menurut pepatah, jika ide Anda dipuji orang, biasanya ide itu biasa saja dan tidak istimewa. Jika ide Anda ditertawakan orang, biasanya ide itu ide yang luar biasa.

Jangan takut berpikir luar biasa. Orang lain menertawakanmu dan menganggapmu pemimpi? Bangunlah. Buat impianmu jadi kenyataan. Orang lain mengatakan tidak mungkin? Jadikan itu tantangan. Orang lain katakan idemu gila? Tantang dirimu untuk mencobanya. Apapun yang kamu anggap bisa lakukan, kamu bisa melakukannya. Luaskan imajinasimu. Berkembanglah. Langit adalah batas kreativitasmu. Tuhan yang Maha Kreatif telah menaruh jejak keberadaanNya dalam diri kita dengan menempatkan pikiran yang tak terbatas dalam otak kita yang luar biasa. Pergunakanlah karuniaNya dengan maksimal. Berpikirlah luar biasa!

Ini bukan sanggahan dari teori berpikir positif yang terkenal itu. Hanya saja, selain berpikir positif, kita juga perlu lebih awas dan lebih bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Seperti kata peribahasa 'Hendaklah kamu tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular..'. Tanpa memikirkan segala kemungkinan dan sisi negatifnya, perencanaan yang terbaik pun dapat gagal. Hidup adalah sebuah keseimbangan, bukan? 

Share:

Monday, 29 June 2015

Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri

Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.

Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, sebetulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.

Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.

Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan aeorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.

Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.

Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.

Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali.. andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.

Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?

Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.

Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.



Selamat berbahagia bagi siapapun yang paling gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya, percayalah hidup ini akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah. Insya Allah.***
Share:

Be Yourself

Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah mengungguli sesama, melainkan mengungguli diri sendiri, memecahkan rekor kita sendiri, mengungguli hari kemarin dengan hari ini, bekerja dengan semangat lebih besar dari yang sudah-sudah. (Steward B. Johnson)

Suatu hari, Ekor Ular dan Kepala Ular bertengkar. "Hei, Kepala! Kenapa kamu yang selalu ada di depan dan aku hanya mengikutimu dari belakang? Ini tidak adil!" protes Ekor Ular. "Aku punya mata, tentu saja aku yang memimpin untuk maju," kata Kepala Ular. "Jika bukan karena gerakanku, bagaimana kamu bisa maju? Tanpa aku, kamu tidak bisa berbuat apa-apa!" bentak Ekor Ular." "Aku bisa pergi ke mana pun aku suka. Kamu tidak bisa melakukan apa-apa," lanjut Kepala Ular. Ekor Ular marah, ia melilitkan dirinya pada sebuah pohon dengan erat. "Ayo, sekarang bergeraklah jika kamu bisa," ujar Ekor Ular. "Aku akan bergerak tanpa peduli apa yang kamu lakukan," kata Kepala Ular sambil terus bergerak. Kepala Ular menarik dan terus berusaha berjalan dengan kekuatannya. Namun seberapa pun ia telah berusaha, ia tetap tidak dapat bergerak sedikit pun. Akhirnya ia menyerah. "Baiklah, kamu menang! Kamu boleh memimpin untuk maju." Sejak itu, Ekor Ular bergerak memimpin. Namun Ekor Ular tidak punya mata, akibatnya badan ular sering menabrak apapun sehingga badannya berdarah-darah. "Baiklah Kepala, aku menyerah. Kamu saja yang di depan. Ternyata, kita memang punya tugas sendiri-sendiri," ucap Ekor Ular.

Ya, setiap orang memang punya panggilannya masing-masing. Ada yang terpanggil menjadi pemimpin, namun tidak sedikit pula yang dipanggil menjadi orang yang dipimpin. Bila semua orang hanya ingin menjadi atasan, lalu siapa yang akan bertugas membawa minuman, membersihkan ruangan, atau mencari klien di luar? Namun kadang kita tidak mengerti dengan prinsip ini, kita hanya ingin menjadi pimpinan, karena berpikir bahwa menjadi bos itu enak, tidak usah bersusah-susah, diberi fasilitas lengkap, dan gaji yang menjulang. Tapi tahukah kita apa yang menjadi tanggung jawab mereka? Bisakah kita mengambil keputusan yang benar di saat perusahaan sedang genting? Mampukan kita memimpin rapat direksi, mempersentasikan ide-ide kita kepada orang banyak sehingga itu bisa dipakai untuk kemajuan bersama? Kalau mau jujur, kita akan berkata bahwa kita tidak sanggup. Atau kerap kali kita ingin mendapat tugas seperti teman kerja lain, yang selalu bisa keluar kantor untuk melobi ke sana-sini, bisa ke mall setiap saat, bisa menikmati makanan enak dan dibayar oleh perusahaan, sementara kita bosan senantiasa bekerja di belakang meja. Tetapi apakah kita tahu, ternyata teman kita itu justru menginginkan posisi kita, yang dapat bekerja nyaman di ruang ber-AC, tidak perlu menunggu klien yang tidak on time, tidak harus menghadapi macet yang menggila? Kita yang sebagai mata, ingin menjadi seperti ekor, tangan, kaki, kepala. Namun apakah kemampuan kita memadai untuk itu?



Hari ini, berhentilah menginginkan untuk menjadi seperti orang lain. Setiap orang punya masalahnya masing-masing, bahkan memiliki tugas yang berbeda-beda. Jika kita memahami hal ini, maka kita pun akan berhenti melihat kehebatan-kehebatan orang lain, kita tidak akan mau lagi menyimpan rasa diri di hati, bahkan kita tidak akan pernah membanding-bandingkan diri kita dengan yang lain. Mengapa? Karena jika teman, sahabat, rekan kerja, punya kemampuan yang hebat, kita pun memilikinya. Dalam bukunya, Temukan Sweet Spot Anda, Max Lucado menulis, "Jangan kuatir akan keahlian-keahlian yang tidak Anda miliki. Jangan menginginkan kekuatan-kekuatan yang dipunyai orang lain. Anda hanya perlu mengembangkan keunikan Anda. Dan lakukanlah itu untuk membuat perkara besar bagi Tuhan." Ya, yang perlu kita lakukan adalah melihat diri kita lebih dalam, melihat potensi-potensi kita, keunikan kita, hal-hal yang tidak dipunyai kebanyakan orang. Lalu latih dan terus kembangkan sehingga menjadi titik kuat kita. Maka dengan itu kita pun dapat meraih banyak hal dalam hidup ini. Percayalah, Anda tidak akan pernah mengenal potensi terbaik diri Anda sendiri, jika Anda hanya berusaha untuk menjadi seperti orang lain.




Jadi, hari ini buatlah sebuah keputusan, "Saya tidak mau lagi menaruh iri dengan pencapaian orang lain. Karena rasa iri tidak akan membawa kebaikan bagi saya. Iri hati bukan hanya menyakiti orang lain, tapi menyakitiku. Aku tahu ke mana pun aku melangkah, selalu ada saja orang-orang yang lebih hebat, lebih kaya, lebih berhasil, lebih pintar dariku. Jadi, daripada aku membuang energi untuk terus-menerus iri dan membandingkan diri dengan mereka, lebih baik aku memaksimalkan seluruh potensi yang Tuhan beri."
Share: