Monday, 20 May 2013

Orang ‘Pikiran Kecil’, Orang ‘Pikiran Sedang’, Orang ‘PikiranBesar’, Yang Manakah Kita?

Salah satu hal menarik jika kita pernah mendengar dan mengamati perkataan dari Roosevelt, mantan Presiden USA yang mengatakan : "Small Minds discuss people, Average Minds discuss events, Great Minds discuss ideas" atau artinya“Orang ‘berpikiran kecil’ biasa ngomongin orang lain, orang ‘berpikiran sedang’ biasa ngomongin sesuatu, dan orang ‘berpikiran besar’ biasa ngomongin ide.”

Sebenarnya  kalimat itu bisa kita anggap ringan dan biasa-biasa saja. Tapi coba kita pikirkan lebih  mendalam dan disaat kita tersadar ternyata kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat  dalam’ sekali.

Maka sebagai akibatnya...
PIKIRAN KECIL akan menghasilkan GOSIP.
PIKIRAN SEDANG akan menghasilkan PENGETAHUAN.
PIKIRAN BESAR akan menghasilkan SOLUSI.

Ketiga jenis pikiran ini ada di dalam setiap otak kita. Pikiran mana yang lebih mendominasi dan selalu kita pergunakan, begitu pulahlah hasil yang akan dikeluarkannya.

Kalau setiap saat otak kita dipenuhi oleh ‘pikiran kecil’, maka kita akan selalu asyik dengan urusan orang lain, namun tidak menghasilkan apa-apa, kecuali perseteruan. Tetapi bila  pikiran besar’ yang mendominasi, maka ia akan aktif menemukan terobosan baru.
                                                                                   
Umumnya ada tiga tipe jiwa manusia. Pertama, orang yang sering menggunakan ‘pikiran kecil’ dan biasanya paling suka ngomongin orang lain. Tipe ini adalah tipe manusia yang relatif cukup banyak dan  sering kita temukan. Baik dari lingkungan kita, atau bahkan dalam diri kita sendiri.

Fokus utama perhatian orang yang sering menggunakan ‘pikiran kecil’ adalah ‘orang lain’. Ia sibuk mengomentari orang lain. Orang yang sering menggunakan ‘pikiran kecil’  biasanya ketika bertemu teman lama, teman baru, tetangga, kolega, rekan bisnis, keluarga, atau siapapun, waktunya hanya habis untuk membicarakan hal-hal sepele yang tidak perlu, atau hal yang sudah diketahui umum, dan tidak memberikan energi positif.

Jika dilakukan content of analysis dari pembicaraannya, elemen yang terkandung di dalamnya meliputi obrolan yang tidak bermutu, kekesalan, kekecewaan, penyesalan, komplain, hal-hal masa lalu dan masa kini yang menyakitkan hati. Ia akan selalu mengulang-ngulang terus apa yang dialami. Padahal, inti ceritanya ya itu-itu saja. Mungkin hal ini sering kita alami pada diri sendiri.

Ada sebuah cerita dimana seseorang yang mengalami kesulitan disaat beradaptasi pertama kali bekerja dan mendapat tugas di sebuah perusahaan. Sering sekali  ia bercerita ke beberapa teman-temanya tentang kesulitan yang ia hadapi. Namun, setelah berkali-kali bercerita, ternyata ia menyadari, ada pola yang sama dari ceritanya disaat seorang teman dekatnya memberi masukan dan mengatakan bahwa, “apa yang dialaminya tersebut ya memang begitulah kejadiannya dan memang sudah banyak orang lain yang ikut dan pernah merasakannya. Terima saja, dan jangan fokus ke semua komplain, keluh-kesah, dan semua  perlakuan tak menyenangkan”, begitu anjuran yang disampaikan sahabatnya tersebut.

Sahabatnya tersebut  menganjurkan untuk fokus ke pembicaraan mengenai pengembangan ide besar. Ide besar dengan dampak dan kontribusi yang besar pula. “Untuk apa terlalu sering membicarakan hal yang tak bermanfaat karena akan mengerdilkan diri kita sendiri”, begitu nasehat yang diberikan sang sobat.

Coba kita renungkan sejenak, apakah kita memang sering menyalahkan orang lain. Kita telat ke kantor atau telat datang ke suatu meeting, kita beralasan ‘jalanan macet’. Kita selalu mencari faktor eksternal di luar diri kita untuk kemudian kita jadikan alasan, kambing hitam atau bahkan pembenaran terhadap tindakan kita.

Hidup yang dijalani seperti itu takkan mengantarkan kita pada akselerasi cepat menuju kesuksesan. Sebaiknya, jika kita mencari faktor kesalahan itu dari internal diri kita, maka hal ini akan lebih baik untuk pengembangan diri kita ke depan. Sehingga, alasan yang muncul ketika kita telat adalah karena tidak berangkat lebih awal, karena komitmen kita lemah dalam berjanji, karena memang disiplin kita buruk. Don’t blame others. Itu intinya.

Kedua, tipe orang yang sering menggunakan ‘pikiran sedang’. Orang seperti ini  biasanya suka  ngomongin sesuatu. Tipe orang seperti ini lebih mendingan daripada tipe pertama  tadi.

Fokus utama pembicaraannya sudah mulai berubah, tidak lagi membicarakan orang lain, komplain, keluh-kesah, apalagi membahas hal negatif.

Namun, ‘sesuatu’ itu tidak pula mencerminkan ide besar. ‘Sesuatu’ itu adalah hal biasa, menyerempet ke hal-hal positif, lebih pasti, lebih riil, tapi dari sisi kebermanfaatannya di masa mendatang kurang terasa. Tipe orang seperti ini tipe yang serba tanggung sebenarnya. Kalau bahasa gaulnya, kentang (kena tanggung).  

Ketiga, tipe orang yang sering menggunakan ‘pikiran besar’. Orang seperti ini biasanya ngomongin ide. Ini tipe ideal yang pasti sangat diinginkan banyak orang dan berharap masuk dalam  kualifikasinya.

Tipe orang seperti ini biasanya selalu membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan ide-ide untuk mengembangkan diri, mengembangkan perusahaan tempatnya bekerja maupun lingkungannya serta terus berusaha melaksanakan cita-cita besar nan ambisius, namun tetap disesuaikan dengan kapabilitas dirinya sendiri. Misalnya, seorang scientist membicarakan tentang penelitian atau penemuan baru di bidangnya.

Contoh yang tepat untuk menggambarkan tipe orang jenis ini adalah ketika ada orang berkeluh kesah padanya, ia akan selalu berusaha mengalihkan pembicaraan pada sesuatu yang lebih optimis, lebih berbobot, dan selalu saja berkaitan dengan pengembangan ide.

Tipe orang jenis ini akan selalu concern dan konsistens mengembangkan ide. “Nothing but idea”, mungkin itu yang selalu gentayangan di kepalanya.
Orang yang selalu concern pada pengembangan ide, akan berusaha mengurangi percakapan yang tidak penting (terkait orang lain) dan niscaya akan menggapai sukses pada waktu yang relatif singkat.

Bagaimana dengan kita?. Jangan takut dan jangan khawatir. Apapun profesi kita, tak ada salahnya mencoba prinsip yang dipegang oleh orang yang sering menggunakan “pikiran besar” dimaksud.

Memperbanyak membicarakan ide bagi ibu rumah tangga yang sedang arisan, tentu bagus. Bisa bikin usaha catering bersama, atau kegiatan lainnya.

Sebagai mahasiswa, perlu juga menelurkan ide besar. Jangan mau jadi mahasiswa biasa. Kenapa tak jadi mahasiswa luar biasa saja jika waktu yang diberikan Allah tetap sama saja, 24 jam sehari?

Kalau kebetulan ada dari kita yang mendapat amanah sebagai birokrat, bisa juga berperang ide dengan memutus mata rantai birokrasi yang tidak efektif. Begitu juga dengan kita-kita yang kebetulan menjadi operator, engineer maupun bidang tugas lainnya.

Ide dan inovasi adalah makanan sehari-hari yang harus selalu berseliweran di kepala kita jika ingin tetap maju dan berkembang pesat.

Jadi, semua orang bisa membentuk karakter dengan selalu concern pada pembicaraan ide, bukan pada hal remeh-temeh dan kurang bermanfaat. Tergantung kitanya masing-masing sebagai pemilik hati, mulut, mata, telinga dan organ lainnya. Akan diarahkan kemana pemanfaatan onderdil gratisan yang diberikan Tuhan kepada masing-masing kita umatNya.

Memang, selalu membicarakan ide saja tentu akan membuat hidup tak ada dinamikanya. Toh, kita bukan robot. Boleh saja ngobrol santai seputar hal remeh-temeh. Tapi porsinya dikurangi sedikit demi sedikit.

Jika melihat atau bertemu dengan hal-hal kecil, remeh-temeh, kita amati dulu, perhatikan dengan seksama, cek dari berbagai sisi (kiri-kanan-atas-bawah-depan-belakang), baru disimpan. Jangan langsung ‘dimakan’ mentah. Cukup endapkan saja dulu di kepala, tapi jangan dibahas-bahas lagi. Lupakan sesaat jika memang tidak ada keuntungan dan manfaat ketika dibicarakan saat itu. Bisa saja nanti di kesempatan lain, informasi remeh-temeh itu ada gunanya, bahkan bisa jadi menolong kita.

Bukan untuk menggurui maupun mengatur jalannya pikiran orang lain, ada baiknya mulai saat itu, setiap kita akan mengawali pembicaraan, selalu saja munculkan pertanyaan kritis seperti ini, “Sebentar, ini pembicaraan (level) orang ‘pikiran kecil, ‘pikiran sedang’, atau ‘pikiran besar’?”.
                                              
Biasanya kita pasti akan merasa lucu dan tertawa disaat akan mempraktekkannya. Tapi dengan keinginan yang muncul dari dalam diri kita sendiri dan membiasakan pembicaraan yang bernas, penuh ide-ide brilian, mengurangi pembicaraan sepele yang tidak perlu, tentu saja akan meningkatkan posisi kita untuk masuk kedalam kualifikasi orang-orang berkarakter yang selalu menggunakan ‘pikiran besar’. Pembiasaan ini memang dipandang perlu karena kata orang bijak, “Karakter terbentuk dari Kebiasaan yang Terus Berulang”.

Kalau saja orang Indonesia sudah membudaya dalam ‘melempar’ ide, bergelut dengannya, dan berusaha mengaplikasikannya, tentu negara kita akan lebih cepat keluar dari keterpurukan. Begitu juga dengan perusahaan kita tercinta pasti ini akan maju dengan pesatnya.

Jika terjadi “Perang ide dimana-mana”, apakah ditingkat level bawah maupun level atas dan setiap orang selalu bergelut dengan ide-ide konstruktif dan berusaha menerapkannya (memang itulah inti persaingan di era globalisasi), maka niscaya kemampuan perusahaan dalam peningkatan omzet penjualannya dan pemenuhan target deliverinya akan meningkat drastis. Dari yang tadinya masih dibawah 2T, mudah-mudahan akan meningkat menjadi 5T atau syukur-syukur bisa menyamai BUMN lainnya yang memiliki omzet penjualan cukup tinggi.

Kalau itu tercapai pasti akan berdampak kepada peningkatan kesejahteraan kita nantinya. Siapa tahu saja presentase kenaikan gaji kita tidak lagi bermain di range 10 % - 15 % melainkan jauh diatas range tersebut atau insentif yang kita terima setiap tahunnya bisa lebih dari 3X sama halnya dengan beberapa BUMN yang sudah mampu memberikan kesejahteraan kepada karyawannya sebanyak 30X THP pertahunnya.

Tentu saja mimpi dan angan-angan tersebut kembali berpulang kepada kita semua. Apa dan bagaimana tujuan bersama yang kita inginkan dengan menggunakan pikiran kita masing-masing sebagai motor penghasil ide-ide briliant dan applicable.

Dari ketiga kategori tipe orang di atas, yang mana menjadi pilihan kita?. Pilih jadi orang yang senang menggunakan ‘pikiran kecil’, orang ‘pikiran sedang’ atau orang yang selalu menggunakan  pikiran besar’?.

Peribahasa mengatakan, “Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan”.

0 komentar:

Post a Comment

 

: : diliecute : : Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates