Saturday, 15 August 2015

Membayar Hutang Silaturahmi

Jawa Minang, bersatunya budaya dan kehidupan bermula di tahun lalu 2014. Pernikahan yang diselenggarakan di Jawa cukup meriah dengan kehadiran anggota keluarga dari Pekanbaru tepatnya. Dan diselenggarakan pula pernikahan balasan atau istilah lainnya “ngunduh mantu” ke seberang pulau Jawa sana. Makin mengkhawatirkan kantong jika melihat antusias keluarga yang ingin menjadi perwakilan untuk ikut setor muka di acara pernikahan balasan tersebut. 7 orang yang akhirnya melaju dari Bandara Abd. Saleh menuju Bandara Sultan Syarif Kasim. Tarik nafas panjang ketika kami melihat harga tiket transportasi udara ini. Proses pencarian tiket pesawat termurah kami lakukan dengan searching situs maskapai langsung dan membandingkan dengan harga di situs airpaz. Alhasil harga terendah dari situ maskapai kami temukan juga di harga terendah di situs airpaz. Puas juga dapat harga itu.




Kali pertama kami menggunakan jasa transportasi udara yaitu maskapai Garuda. Cukup memuaskan juga layanannya. Hingga keluarga yang kami ajak terkesan dengan pengalaman itu. Saat itu kami booking pesawat dengan rute satu kali transit. Malang – Jakarta – Pekanbaru. Beda halnya dengan kembali ke Malang, kami menggunakan maskapai Lion Air dengan rute Pekanbaru – Jakarta – Malang.
Alhamdulillah penyelenggaraan ngunduh mantu berakhir lancar. Meskipun pada saat itu kami yang berasal dari Malang – Jawa Timur yang suhu lingkungannya cukup dingin sulit untuk beradaptasi dengan suhu kota Pekanbaru yang panasnya cukup menyengat. Hal inilah, membuat kami keluarga dari Malang tidak kunjung berhenti untuk meneguk air. Keceriaan belum berakhir. Usai acara, di hari berikutnya kami berkunjung wisata ke Bukittinggi. Dalam perjalanan, kami tidak melewatkan untuk momen berfoto ria. Melewati kelok sambilan dnegan bangunan baru yang berdiri tegak menjulang. 


 Dalam perjalanan, kami tak luput akan lelah. Sembari istirahat di kedai pinggir danau. Kami pun menyeruput minuman dan makanan kecil yang ditawarkan di kedai tersebut.

 
Perjalanan kami lanjutkan menuju Bukittinggi Sumatra Barat. Waah akhirnya sampai juga. Lumayan lapar juga, dan kamipun mampir ke salah satu warung yang pastinya menjajakan menu masakan padang. Penyajiannya berbeda dari warung padang yang pernah kami datangi di Jawa.

Perut kenyang, saatnya cuci mata. Tujuan kami adalah ke Jam Gadang. Tak lupa kami mengabadikan momen yang tak terlupakan ini. 


Depan alun-alun ini, ada sebuah pasar. Sering disebut dengan Pasar Ateh. Disini tempat wisatawan berbelanja. Ada yang jual kain, souvenir Sumbar, makanan khas yang cocok bua dijadikan oleh-oleh tuk kerabat saat kembali ke Malang nanti. 


Hari berikutnya kami jalan-jalan menuju tempat wisata Goa Jepang, tapi sebelumnya kami menyantap sarapan terlebih dahulu dengan makanan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya yaitu pical sikai. Seperti gado-gado gitu. Pakai bumbu kacang, banyak sayurannya, dan ada lontong serta kerupuknya gag ketinggalan. Ngarai Sianok dan Goa Jepang, antusias kami bayar dengan menelusuri goanya. Serem juga jika masuk tanpa teman. 


Lanjut dengan destinasi berikutnya yaitu Benteng Fort De Kock dan Kebun Binatang Bukittinggi. Di dalamnya ada rumah gadangnya juga. Foto-foto lagi.




Berhubung waktu untuk berlibur sedikit, maka tujuan wisata terakhir adalah puncak Lawang. Puncak Lawang berdekatan dengan Danau Maninjau. Sebenarnya ada saudara dari suami yang bertempat tinggal disana. Ingin sekali berinap, tetapi sayang keadaan belum memungkinkan. Semoga ada hari lain yang bisa membayar hutang kami berkunjung kesana di lain waktu.


Selain berfoto dan beristirahat melihat pemandangan elok dan berangin sepoi-sepoi di Puncak Lawang, adek dan suami menyempatkan tuk menikmati dengan ikut wahana flying fox. Yuhuuu...



Benar-benar menikmati sekali liburan kali ini. Kalo dibilang liburan sih tidak juga. Karena ada hajat. Seperti yang ku bilang di awal, sambil menyelam minum air. Oleh-oleh pengalaman dan craft serta camilan khas pekanbaru dan bukittinggi menjadi momen tidak terlupakan. Apalagi perjalanannya menuju kesana. Karena saking baru pertama naik pesawat. 

Alhamdulillah, kami dianugerahi seorang puteri cantik berumur 6 bulan. Perkembangannya sungguh cepat. Dari tengkurap, ngesot mundur, hingga sekarang bisa maju meski masih seperti ulat gerakannya. Lucu sekali melihat tingkahnya. Turun tanah, menjadi budaya tersendiri oleh keluarga suami. Jikalau bisa, malah seharusnya turun tanah dilakukan disana, Rao daerah kelahiran kakek (ayah dari suami). Percaya tidak percaya, ada saja kemungkinan sakit jika tidak turun tanah disana. Kalau diambil sisi positifnya, anggap saja silaturahmi. Toh setahun yang lalu, kami belum sempat untuk bersilaturahmi ke keluarga besar suami. Bertemu dengan kakek nenek dan saudara dari suami di Pekanbaru, dan pergi bersama ke Rao dan tempat lainnya.


Share:

Wednesday, 1 July 2015

BERPIKIR POSITIF SAJA NGGAK CUKUP !!!

Kamu pasti pernah mendengar tentang pentingnya berpikir positif. Bahkan mungkin, hampir semua umat manusia yang hidup di abad ini pernah mendengarnya. Dan menerapkannya. Dan memetik keuntungan darinya.

Yup. Berpikir positif memang baik. Penting dan bermanfaat, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain, demikian dikatakan oleh para ahli. Sayangnya, berpikir positif pun mempunyai sisi lemah yang dapat merusak keseimbangan hidup kita.

Hidup adalah sebuah keseimbangan. Selalu ada sisi bertentangan untuk setiap bidang kehidupan. Kerja keras yang tak diimbangi istirahat yang cukup bisa berakibat fatal. Makanan enak tanpa diimbangi olahraga mengakibatkan banyak orang mati sebelum waktunya. Gaya hidup mewah tanpa diimbangi filosofi hidup hemat membuat kita bangkrut. Bahkan cinta tanpa disiplin akan menghasilkan anak-anak yang manja dan suka memberontak. Semua bidang menuntut keseimbangan dalam hidup kita!

Jika kamu menganggap berpikir positif adalah segalanya, kamu perlu mempertimbangkannya kembali. Berpikir positif menuntut kita memandang segalanya dari sisi positif. Namun bagaimana dengan sisi negatifnya? Apakah kita lantas bisa mengabaikannya? Berikut ada 7 hal lain yang perlu kita pertimbangkan selain berpikir positif..

1. Berpikir Benar
Sejujurnya, agak susah menjabarkan tentang berpikir benar, karena kebenaran di jaman ini telah bergeser nilainya. Kebenaran selalu bersifat relatif, tergantung siapa yang memandang. Kita bisa bicara dengan dua orang yang bermusuhan dan masing-masing akan mengatakan diri mereka benar, lengkap dengan segala penjelasan mendetail tentang kisah menurut versi mereka. Kamu perlu mengikuti kata hatimu dalam hal ini. Definisikan apa yang benar sesuai dengan nilai-nilai dalam hidupmu. Jika 'benar' dalam lingkunganmu berarti mengurangi hak orang, kamu tahu apa artinya. Jika benar berarti membela yang bayar, memanjat ke atas dengan menginjak leher orang, menjatuhkan orang lain dengan segala cara, atau hal-hal semacam itu, kamu harus memutuskan apa yang akan kamu lakukan. Jika perlu, keluar dari sana dan cari lingkungan yang bisa membuatmu bertumbuh jadi lebih baik!

2. Berpikir Mulia
Apa komentarmu ketika melihat orang mengucapkan kata-kata kasar yang tak sepantasnya diucapkan? Biasanya sih, dengan heran dan takjubnya kita akan mengatakan 'Duh, penampilannya keren, jabatannya oke tapi mulutnya kok nggak berpendidikan ya..'.

Rupanya, pendidikan itu mempengaruhi kelakuan seseorang. Diharapkan, dengan semakin terdidiknya seseorang, akan semakin tinggi pula martabat dan sikap moralnya. Namun dalam kenyataannya, tidaklah selalu demikian. Banyak orang mengaku berpendidikan, namun sikap mereka menyatakan sebaliknya. Ternyata, karakter jauh lebih penting daripada pendidikan. Kamu bisa mencari ilmu sampai ke ujung dunia, tapi tanpa karakter dan nilai-nilai yang baik dalam hidup, kamu akan tetap diragukan orang. Kamu tidak semata dinilai dari tampilan atau rupa, atau berapa deret nol yang tertera di buku tabunganmu, tapi karakter dan integritasmu menentukan penghargaan orang terhadap dirimu yang sesungguhnya. Jangan hanya berpikir positif, berpikirlah mulia.

3. Berpikir Adil
Sahabatmu nyata-nyata bersalah, sementara orang yang kamu musuhi ternyata benar. Siapa yang akan kamu bela? Akankah kamu tetap mengatakan 'Hidup persahabatan!' dan menelantarkan nilai-nilai pribadimu? Keadilan mungkin tidak berpihak bagi banyak orang sementara ini. Namun itu bukan alasan bagi kita untuk tidak bersikap adil. Kejarlah keadilan. Berikan pada tiap orang apa yang menjadi haknya. Bersikaplah adil walaupun hidup tampaknya tidak adil bagimu, karena selama bumi ini ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai. Apapun yang kamu tabur akan kamu tuai. Ini adalah hukum alam yang tak dapat dibatalkan, jadi kamu perlu menetapkan bagi dirimu untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat adil.

Berpikir adil juga menuntutmu untuk menempatkan diri dalam perspektif yang tepat. Jangan hanya berpikir positif. Berpikir jugalah dengan kewaspadaan. Jangan menerima segala sesuatu sebagaimana adanya (mentah-mentah), karena seringnya, yang tampak bukanlah yang sebenarnya. Orang yang hanya berpikir positif (tanpa kewaspadaan dan kebijaksanaan) akan mudah dibohongi. Pikirkan juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi sebelum kamu mengambil keputusan. Mungkin niatmu baik. Tapi tidak demikian halnya dengan banyak orang lain di sekitarmu. Sangat perlu untuk menguji setiap kalimat atau tindakan atau sikap yang diarahkan pada kita.

4. Berpikir Suci
Pacarmu mengajakmu begituan dan kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu pikir, berpikir positif bisa membantumu memecahkan masalah. Tunggu dulu. Berpikir positif? Positif bagi siapa? Bagi kamu? Bagi dia? Bagi hubungan cinta kalian? Lalu bagaimana dengan masa depanmu? Calon pasangan hidupmu? Orang tuamu? Integritasmu? Dalam hal ini, berpikir suci sepertinya lebih penting ketimbang 'berpikir positif', teman..

5. Memikirkan yang Manis (menyenangkan)
Prinsipnya, jika sesuatu tidak menyenangkan bagi semua pihak, maka jangan pikirkan atau lakukan hal itu. Buang semua hal buruk dari pikiran, hati dan jiwamu. Lakukan detoksifikasi dalam batinmu. Suatu saat, kamu akan berterima kasih pada dirimu sendiri karena telah melakukannya. Kamu akan menjadi lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih sejahtera karenanya (ingat prinsip hukum ketertarikan?). Apapun yang kamu pilih untuk tinggal dalam pikiranmu, akan memenuhi hidupmu, dan itulah yang menjadi takdirmu. Kita sendiri yang menentukan takdir kita, kawan. Kita juga yang menentukan bagaimana kita akan mengisi dan menjalani hidup yang telah Tuhan berikan pada kita!

6. Berpikir Kreatif
Jika kamu menganggap hidup telah memperlakukanmu dengan tidak adil, pikirkan sebaliknya. Apa yang akan terjadi jika pengalaman buruk tak terjadi padamu? Akankah hidupmu berbeda? Akankah kamu menjadi pribadi yang lebih baik? Akankah kamu berkembang? Kadangkala, butuh pemikiran yang kreatif dan luas untuk memahami segala yang terjadi dalam hidup.

Jangan pernah menyalahkan diri atau keadaan, tapi belajarlah darinya. Kamu adalah murid yang harus terus belajar dan diuji di sekolah kehidupan agar naik tingkat, bukannya korban yang selalu menangis dan meratapi nasib. Kamu takkan belajar apapun dari tangisan dan keluh kesahmu.

Jika ada berita yang perlu didengar tentang kamu, maka berita itu hendaklah sesuatu yang sedap didengar, yang timbul sebagai hasil pikiran kreatifmu yang bermanifestasi dalam seluruh tindakan dan perkataanmu.

7. Berpikir Luar Biasa
Sudah menjadi kecenderungan kita untuk berpikir standar. Jika sebuah ide ditolak, biasanya kita akan mundur dan mencari cara yang tepat agar ide tersebut lebih diterima. Padahal, menurut pepatah, jika ide Anda dipuji orang, biasanya ide itu biasa saja dan tidak istimewa. Jika ide Anda ditertawakan orang, biasanya ide itu ide yang luar biasa.

Jangan takut berpikir luar biasa. Orang lain menertawakanmu dan menganggapmu pemimpi? Bangunlah. Buat impianmu jadi kenyataan. Orang lain mengatakan tidak mungkin? Jadikan itu tantangan. Orang lain katakan idemu gila? Tantang dirimu untuk mencobanya. Apapun yang kamu anggap bisa lakukan, kamu bisa melakukannya. Luaskan imajinasimu. Berkembanglah. Langit adalah batas kreativitasmu. Tuhan yang Maha Kreatif telah menaruh jejak keberadaanNya dalam diri kita dengan menempatkan pikiran yang tak terbatas dalam otak kita yang luar biasa. Pergunakanlah karuniaNya dengan maksimal. Berpikirlah luar biasa!

Ini bukan sanggahan dari teori berpikir positif yang terkenal itu. Hanya saja, selain berpikir positif, kita juga perlu lebih awas dan lebih bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Seperti kata peribahasa 'Hendaklah kamu tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular..'. Tanpa memikirkan segala kemungkinan dan sisi negatifnya, perencanaan yang terbaik pun dapat gagal. Hidup adalah sebuah keseimbangan, bukan? 

Share:

Monday, 29 June 2015

Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri

Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.

Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, sebetulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.

Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.

Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan aeorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.

Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.

Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.

Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali.. andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.

Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?

Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.

Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.



Selamat berbahagia bagi siapapun yang paling gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya, percayalah hidup ini akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah. Insya Allah.***
Share:

Be Yourself

Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah mengungguli sesama, melainkan mengungguli diri sendiri, memecahkan rekor kita sendiri, mengungguli hari kemarin dengan hari ini, bekerja dengan semangat lebih besar dari yang sudah-sudah. (Steward B. Johnson)

Suatu hari, Ekor Ular dan Kepala Ular bertengkar. "Hei, Kepala! Kenapa kamu yang selalu ada di depan dan aku hanya mengikutimu dari belakang? Ini tidak adil!" protes Ekor Ular. "Aku punya mata, tentu saja aku yang memimpin untuk maju," kata Kepala Ular. "Jika bukan karena gerakanku, bagaimana kamu bisa maju? Tanpa aku, kamu tidak bisa berbuat apa-apa!" bentak Ekor Ular." "Aku bisa pergi ke mana pun aku suka. Kamu tidak bisa melakukan apa-apa," lanjut Kepala Ular. Ekor Ular marah, ia melilitkan dirinya pada sebuah pohon dengan erat. "Ayo, sekarang bergeraklah jika kamu bisa," ujar Ekor Ular. "Aku akan bergerak tanpa peduli apa yang kamu lakukan," kata Kepala Ular sambil terus bergerak. Kepala Ular menarik dan terus berusaha berjalan dengan kekuatannya. Namun seberapa pun ia telah berusaha, ia tetap tidak dapat bergerak sedikit pun. Akhirnya ia menyerah. "Baiklah, kamu menang! Kamu boleh memimpin untuk maju." Sejak itu, Ekor Ular bergerak memimpin. Namun Ekor Ular tidak punya mata, akibatnya badan ular sering menabrak apapun sehingga badannya berdarah-darah. "Baiklah Kepala, aku menyerah. Kamu saja yang di depan. Ternyata, kita memang punya tugas sendiri-sendiri," ucap Ekor Ular.

Ya, setiap orang memang punya panggilannya masing-masing. Ada yang terpanggil menjadi pemimpin, namun tidak sedikit pula yang dipanggil menjadi orang yang dipimpin. Bila semua orang hanya ingin menjadi atasan, lalu siapa yang akan bertugas membawa minuman, membersihkan ruangan, atau mencari klien di luar? Namun kadang kita tidak mengerti dengan prinsip ini, kita hanya ingin menjadi pimpinan, karena berpikir bahwa menjadi bos itu enak, tidak usah bersusah-susah, diberi fasilitas lengkap, dan gaji yang menjulang. Tapi tahukah kita apa yang menjadi tanggung jawab mereka? Bisakah kita mengambil keputusan yang benar di saat perusahaan sedang genting? Mampukan kita memimpin rapat direksi, mempersentasikan ide-ide kita kepada orang banyak sehingga itu bisa dipakai untuk kemajuan bersama? Kalau mau jujur, kita akan berkata bahwa kita tidak sanggup. Atau kerap kali kita ingin mendapat tugas seperti teman kerja lain, yang selalu bisa keluar kantor untuk melobi ke sana-sini, bisa ke mall setiap saat, bisa menikmati makanan enak dan dibayar oleh perusahaan, sementara kita bosan senantiasa bekerja di belakang meja. Tetapi apakah kita tahu, ternyata teman kita itu justru menginginkan posisi kita, yang dapat bekerja nyaman di ruang ber-AC, tidak perlu menunggu klien yang tidak on time, tidak harus menghadapi macet yang menggila? Kita yang sebagai mata, ingin menjadi seperti ekor, tangan, kaki, kepala. Namun apakah kemampuan kita memadai untuk itu?



Hari ini, berhentilah menginginkan untuk menjadi seperti orang lain. Setiap orang punya masalahnya masing-masing, bahkan memiliki tugas yang berbeda-beda. Jika kita memahami hal ini, maka kita pun akan berhenti melihat kehebatan-kehebatan orang lain, kita tidak akan mau lagi menyimpan rasa diri di hati, bahkan kita tidak akan pernah membanding-bandingkan diri kita dengan yang lain. Mengapa? Karena jika teman, sahabat, rekan kerja, punya kemampuan yang hebat, kita pun memilikinya. Dalam bukunya, Temukan Sweet Spot Anda, Max Lucado menulis, "Jangan kuatir akan keahlian-keahlian yang tidak Anda miliki. Jangan menginginkan kekuatan-kekuatan yang dipunyai orang lain. Anda hanya perlu mengembangkan keunikan Anda. Dan lakukanlah itu untuk membuat perkara besar bagi Tuhan." Ya, yang perlu kita lakukan adalah melihat diri kita lebih dalam, melihat potensi-potensi kita, keunikan kita, hal-hal yang tidak dipunyai kebanyakan orang. Lalu latih dan terus kembangkan sehingga menjadi titik kuat kita. Maka dengan itu kita pun dapat meraih banyak hal dalam hidup ini. Percayalah, Anda tidak akan pernah mengenal potensi terbaik diri Anda sendiri, jika Anda hanya berusaha untuk menjadi seperti orang lain.




Jadi, hari ini buatlah sebuah keputusan, "Saya tidak mau lagi menaruh iri dengan pencapaian orang lain. Karena rasa iri tidak akan membawa kebaikan bagi saya. Iri hati bukan hanya menyakiti orang lain, tapi menyakitiku. Aku tahu ke mana pun aku melangkah, selalu ada saja orang-orang yang lebih hebat, lebih kaya, lebih berhasil, lebih pintar dariku. Jadi, daripada aku membuang energi untuk terus-menerus iri dan membandingkan diri dengan mereka, lebih baik aku memaksimalkan seluruh potensi yang Tuhan beri."
Share:

Apakah Saudaraku Rindu Terhadap Bulan Ramadhan?

Perlu kita ketahui bahwa setiap orang muslim sudah seharusnya merindukan ramadhan.
Bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah,jadi apakah kita harus merindukan ramadhan?.

Ada sebuah hadits yang sudah sangat populer bagi kita. “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”. ( HR. Thabrani dan Baihaqi). Kenapa kita merindukan bulan ramadhan, karena pada bulan ramadhan terdapat berbagai macam keistimewaan yang terdapat di dalamnya:

1. Derajat Taqwa

Qs. Al baqarah(2); 183

Ketika kita berpuasa, melatih kita untuk menjadi orang yang bertaqwa. Karena dengan bertaqwa kita bisa menyelesaikan masalah-masalah yang kita miliki.

Hidup kita penuh dengan berbagai macam masalah, tapi Allah berkata jika seseorang bertaqwa maka Allah akan memberikan berbagai macam kemudahan bagi nya, diantaranya :

Allah akan memberikan jalan keluar dari semua masalahnya Allah akan mencukupkan keperluannya Allah akan memberikan ketenangan jiwa baginya.

2. Bulan Pengampunan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman & mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

3. Pahala yang Dilipatgandakan

Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman, Kecuali, puasa. Puasa itu untuk dan Akulah yang akan membalasnya. Ia tinggalkan nafsu syahwat dan makannya semata-mata karena Aku. Orang yang berpuasa mendapat dua kebahagiaan, ketika berbuka dan ketika berjumpa Rabbnya. Bau mulut orang yang berpuasa disisi Allah lebih wangi daripada bau parfum misik. (HR. Muslim).

4. PintuSurga Dibukakan dan Pintu Neraka Ditutup

Pada bulan ramadhan seluruh pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, karena pada bulan ramadhan sedikit saja amalan yang kita lakukan maka pahalanya begitu besar.

Pada bulan ramadhan syaitan-syaitan diikat.

“Kalau datang bulan Ramadhan, maka terbuka seluruh pintu surga, tertutup pintu neraka dan setan-setan dibelenggu” (HR. Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)

Namun, jika syetan-syetan diikat mengapa pada bulan ramadhan masih banyak orang-orang yang melakukan maksiat dsb,. Hal tersebut dikarenakan saat di hari biasa kita sering sekali mengetuhankan hawa nafsu, tanpa banyak berfikir panjang, melakukan dosa-dosa kecil, maupun dosa-dosa besar. Sehingga pada bulan ramadhanpun kita lebih banyak menuruti hawa nafsu kita, karena syetan itulah yang sudah melekat pada diri kita/yang berwujud pada diri kita.

5. Terdapat Amalan-amalan yang Istimewa

Rasulullah SAW bersabda,

Rasulullah bersabda : “Setiap amal anak keturunan Adam dilipat gandakan. Setiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus kali lipat” (HR. Bukhari-Muslim)

6. Dicintai oleh Allah

Orang-orang yang berada dalam bulan ramadhan dicintai oleh Allah.
Hadits qudsi : “Kalau Aku telah mencintai seseorang , Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuyk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya” (HR. Bukhari)

7. Do’a Kita Akan Diijabah

Orang yang sedang berpuasa maka doanya akan mudah diijabah oleh Allah.
Firman Allah : “Tiga doa yang tidak ditolak oleh Allah, orang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan doanya orang yang teraniaya. Allah mengangkat doanya kea wan dan membukakan pintu-pintu langit. Demi kebesaran-Ku engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang” (HR. Ahmad dan Tirmidzi) Firman Allah : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku” (QS. Al Baqarah : 186)

8. Lailatul Qadar

Allah menyatakan dalam firman-Nya : Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka mengatur segala urusan. Malam itu adalah malam yang penuh dengan kemuliaan sampai terbit fajar” (QS. Al Qodar : 4-5) Di sepuluh hari terakhir ini pula orang melaksanakan I’tikaf dan berharap Lailatul Qodar datang menemui dirinya.

9. Kesehatan

Puasa Ramadan selama 1 bulan penuh maka akan memberikan manfaat untuk kesehatan pencernaan kita semuanya. Kita ketahui bahwasannya organ pencernaan kita juga sangat jarang untuk berhenti beraktifitas. Maka dengan menunaikan ibadah puasa ramadan selama 30 hari ini akan membantu mengistirahatkan organ pencernaan kita serta juga perut dari kelelahan bekerja yang terus menerus dalam 11 bulan, dan juga membantu mengeluarkan sisa makanan dari dalam tubuh, memperkuat badan kita juga yang akan berdampak kepada peningkatan status kesehatan kita tentunya.

10. Pintu Khusus Ar-Royan

“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut Ar Royyaan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti. Tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup” (HR. Bukhari).

11. Suasana Ramadhan

Saat bulan puasa, kita tentunya banyak bersilaturahmi dengan sanak keluarga dan saudara. Kemudian pada momen puasa lebih berbeda dan istimewa, momen saat-saat menunggu berbuka dan sahur bersama keluarga. Berbagi makanan dengan tetangga, bersedekah dan berbuat amal lain yang membuat bulan ramadhan berbeda dari bulan yang lainnya.

12. Perkataan Berat (Qaulan Tsaqilaa)

Di bulan Ramadhan ditekankan untuk melakukan shalat malam dan tadarus Al Qur’an terutama pada sepertiga malam terakhir. Untuk semaraknya syiar Ramadhan, diperbolehkan shalat malam di sepertiga malam yang pertama dengan berjamaah di masjid yang popular disebut sebagai shalat Tarawih. Orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan cahaya kewibawaan. Allah juga menganugrahi qaulan tsaqilaa yaitu perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu mengandung kebenaran dan bernilai tinggi, jauh dari kesan mengobral kata-kata.

13. Zakat Fitrah


Setiap muslim wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk mensucikan jiwa. Demikian pula dengan harta yang telah terkumpul selama satu tahun dan telah mencapai nishabnya, maka wajiblah dizakati. Harta dan jiwa yang disucikan ini di akhirat nanti akan dapat menghindarkan diri dari api neraka. Harta yang barokah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya harta yang tidak barokah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaktenangan dalam hidup.


Share:

Berpikir Benar, Berpikir Positif


Pikiran positif adalah pikiran yang dapat membangun dan memperkuat kepribadian atau karakter. Ini juga berarti bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih matang, lebih berani menghadapi tantangan, dan melakukan hal-hal yang hebat.

Pikiran positif tak akan membuat kita berhenti karena keterbatasan atau kelemahan kita, namun pikiran positif justru akan membuat kita mencari kekuatan kita hari demi hari.

Pascal pernah mengutarakan kalimat-kalimat bijak, yang kira-kira bunyinya seperti ini : "Pikiran positif datang dari kepercayaan, pikiran negatif datang dari keragu-raguan; rasa takut yang benar adalah rasa takut yang digabungkan dengan harapan, karena itu lahir dari kepercayaan, serta kita berharap pada Tuhan yang kita yakini; sementara rasa takut yang salah digabungkan dengan keputusasaan, karena kita takut pada Tuhan; beberapa orang takut kehilangan-Nya, sementara yang lain takut mencarinya."



Jadi, kita tak perlu ragu-ragu akan kemampuan kita. Kita harus percaya pada kemampuan kita. Harga diri yang kita miliki seharusnya bisa membuat kita kuat dan terus bersikap positif. Kita juga seharusnya tak pantas untuk menjadikan ‘membuat alasan’ sebagai kebiasaan kita. Sikap seperti ini tak akan bisa membuat kita menjadi pemenang dalam kehidupan ini. Sikap seperti inilah yang akan membunuh ambisi, melemahkan kemauan, dan membahayakan diri kita sendiri.

Orang-orang yang terus menerus dikelilingi oleh ketakutan tak tahu betapa banyaknya pikiran-pikiran negatif yang mempengaruhi mereka tiap harinya. Mereka membatasi diri mereka sendiri dengan sugesti bahwa keterbatasan mereka menghalangi mereka untuk sukses, dan mereka juga percaya bahwa diri mereka tidak berharga. Mereka tidak berpikir bagaimana caranya agar sukses, tapi mereka justru berpikir bagaimana mereka bisa gagal.

Pernahkan Kita mendengar tentang Washington Irving?. Irving adalah seorang sastrawan Amerika yang terkenal dengan karyanya yang berjudul “The Legend of Sleepy Hollow”. Suatu ketika, Washington Irving pernah diminta untuk memimpin suatu cara makan malam untuk kedatangan Charles Dickens, namun dia merasa bimbang dan yakin bahwa dirinya tak akan berhasil. Irving ditunjuk sebagai seorang pemimpin perjamuan, dan akhirnya dia menerima tugas tersebut.

Tapi, Irving terus menerus mengatakan bahwa dia takut jika dia akan gagal. Saat malam perjamuan tiba, Irving membuat pembukaan yang bagus, tapi tiba-tiba dia berhenti dan menutup pembicaraannya. Ketika dia duduk, dia berbisik pada teman di sebelahnya, "Sudah saya bilang, saya pasti gagal…dan itu baru saja terjadi!"

Cara berpikir Irving tersebut adalah alasan mengapa ia gagal. Sekiranya ia berpikir bahwa dia pasti bisa, bukan pasti gagal, maka saya yakin kejadiannya tidak akan seperti itu.

Dalam membangun kebiasaan berpikir positif dengan hanya melihat yang terbaik dalam diri Kita dan orang lain, percaya bahwa Kita mampu melakukan hal-hal besar, perlu ditekankan bahwa pikiran kita memang suatu hal yang akan menentukan keberhasilan kita. Apa yang Kita lakukan kemarin menentukan diri Kita hari ini, dan apa yang Kita lakukan hari ini akan menentukan jadi apa Kita besok.

Coba tanyakan pertanyaan berikut: Apakah Kita mendapat manfaat dari berpikir negatif? Apakah Kita ingin memikirkan sesuatu yang akan menghambat diri Kita untuk melakukan hal-hal hebat? Apakah Kita menginginkan pikiran negatif yang pasti akan membawa ketidakpuasan, kesedihan, dan kegagalan?

Yang jelas yakinkan dengan  pasti bahwa jawaban Kita untuk semua pertanyaan tersebut adalah ‘tidak’. Namun jika Kita tidak waspada, pikiran semacam itu akan menyelundup masuk ke dalam kepala Kita. Cara yang terbaik untuk mencegahnya adalah dengan terus mengisi pikiran Kita dengan pikiran positif, dengan berpikir bahwa Kita adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang hebat, yang punya kemungkinan tak terbatas, yang terus tumbuh baik secara mental maupun spiritual, serta terus berjalan menuju keberhasilan.

Memang sulit untuk terus berpikir positif ketika keadaan kita berlawanan dengan mimpi-mimpi kita. Namun, ketika kita membiasakan diri untuk terus berpikir positif, maka kebiasaan tersebut akan menjadi suatu daya tarik bagi kita. Pikiran baik kita lama kelamaan akan menjadi pikiran besar, sehingga kita akan bisa melakukan hal-hal yang kelihatannya mustahil.

Dalam buku digitalnya yang berjudul ”Guaranteed Success Thinking”, Jim Ewards mencontohkan bahwa kebiasaan berpikir kita bisa diibaratkan dengan bagaimana kita merawat sebuah taman. Benih tanaman adalah pikiran kita, dan bagaimana tukang kebun bekerja diibaratkan sebagai tindakan kita.

Kita, sebagai tukang kebun, harus selalu merawat benih yang ditanam dengan baik. Kita harus membersihkan taman dari kotoran, dan menyingkirkan rerumputan liar yang tumbuh. Kasus ini sama seperti pikiran, yaitu kita harus menyingkirkan hal-hal negatif yang ada dalam kepala kita.

Jika kita bisa terus menjaganya, maka suatu saat nanti kita pasti akan mendapat hasil yang kita inginkan, yaitu bunga atau buah yang manis hasil dari kerja keras kita.

Oleh karena itu, Kita tak boleh meremehkan pikiran yang ada dalam kepala Kita sejak Kita bangun tidur. Pikiran positif ketika Kita mengawali hari akan dapat mengubah rasa takut menjadi keberanian. Pikiran tersebut dapat menggerakkan Kita untuk berbuat hal-hal besar.

Berpikir positif sangatlah penting diterapkan dalam hidup, karena pikiran tersebut dapat mempengaruhi Kita untuk melakukan hal-hal yang tepat. Ada banyak orang yang salah mengambil profesi atau bisnis karena mereka tidak berpikir dengan matang dan positif. Mereka tidak bisa membuat pilihan yang tepat bagi hidup mereka.

Sidney Smith pernah berkata : "Jika kita mengibaratkan profesi dalam hidup sebagai lubang di sebuah meja, ada yang bundar, kotak, dan bujur sangkar; dan manusia sebagai potongan kayu yang bentuknya sesuai lubang tersebut, maka pada umumnya kita menemukan bahwa orang-orang yang berbentuk segitiga masuk ke dalam lubang yang kotak, yang bujur sangkar masuk ke lubang segitiga, sementara yang kotak memaksa diri untuk masuk ke lubang yang bundar."

Kalimat Inspiratif

Untuk bisa terus berpikir positif, Kita bisa mencermati kutipan-kutipan atau kalimat-kalimat bijak dan inspiratif dari orang-orang ternama untuk menyegarkan pikiran Kita. Kita bisa melihatnya di situs-situs semacam WikiQuote.org.

Contohnya:

"Mereka bisa menaklukkan apapun yang mereka percaya bisa taklukkan." --John Dryden

"Pengetahuan menjadi pengetahuan sejati bila diperoleh dengan usaha pemikiran, bukan ingatan. " -- Leo Tolstoy

"Mereka yang tak tahu bagaimana melawan kekhawatiran akan mati muda. " -- Alexis Carrel

" Jika Saya memberi Kita satu sen, maka Kita akan menjadi lebih kaya satu sen, dan saya akan lebih miskin satu sen. Tapi jika saya memberi Kita sebuah ide, Kita akan punya ide baru, tapi saya juga masih memilikinya. " -- Albert Einstein

" Orang yang bijaksana berbicara karena ada sesuatu yang harus ia katakan, orang tolol berbicara karena ia harus mengatakan sesuatu. "” – Plato

"Harapan melihat yang tak terlihat mata, merasakan yang tak bisa diraba, dan meraih hal yang tidak mungkin. " -– Charles Caleb Colton

Kalimat-kalimat tersebut akan memberi Kita energi untuk melakukan hal-hal besar. Pikiran Kita yang telah terisi dengan hal-hal positif semacam itu juga akan bisa membangun karakter sekaligus mengubah nasib Kita.

Mengetahui bahwa pikiran kita punya andil besar dalam hidup kita, maka sudah seharusnya kita tidak menyia-nyiakannya.

Fokus Pada Kelebihan

Orang yang berpikir positif akan mempunyai alasan untuk merasa bangga pada diri mereka sendiri, dan mereka akan bisa menjalani hidup dengan lebih bersemangat. Tak ada kekurangan, keterbatasan, kebimbangan, atau rasa takut; karena mereka menjadikannya sebagai kekuatan. Mereka telah terbiasa untuk bersikap selektif dalam berpikir, yaitu menerima pikiran positif dan membuang pikiran negatif.

Seperti yang telah diutarakan diatas, pikiran positif juga dapat membangun karakter. Sebaliknya, pikiran yang negatif akan membawa kehancuran; yang tidak menghasilkan apapun kecuali rasa takut, keputusasaan, dan kegagalan yang sangat menyakitkan. Jika Kita berpikir positif, maka Kita adalah orang optimis yang tidak akan fokus pada keburukan diri sendiri atau pun orang lain.

Bagaimana seseorang bisa menghilangkan pikiran negatif dalam hidupnya? Melakukan afirmasi seperti "Saya tidak takut," "Saya bukan orang lemah," atau "Saya bukan orang gagal." saja tidak cukup. Mengapa? Karena fokus pada hal positif akan lebih konstruktif. Maka, Kita perlu menghindari  penggunaan kata-kata negatif seperti “takut”, “lemah”, dan “gagal”.

Katakan saja "Saya percaya diri," "Saya kuat," "Saya sukses," dan seterusnya.

Lakukan afirmasi seperti ini dengan penuh semangat dan keyakinan. Namun Kita harus ingat, bahwa afirmasi harus diikuti dengan perbuatan nyata. Seseorang bisa saja terus duduk di belakang meja dan terus menekankan bahwa dia adalah orang sukses, tapi jika dia tak melakukan apaapa, pada akhirnya sukses tak akan dapat diraih. Ketika Kita berkata "saya berani," maka Kita harus mendemonstrasikannya dalam kehidupan nyata.

Meyakini dan mempercayai apa yang Kita afirmasikan itu tidaklah cukup, melainkan Kita juga harus mempraktikkannya. Cara lain adalah dengan memfokuskan diri pada potensi Kita. Mulailah dengan membuat penilaian yang jujur tentang kemampuan diri Kita sendiri. Namun, Kita harus fokus pada hal-hal yang bisa Kita lakukan. Jangan fokus pada hal negatif, yaitu kelemahan Kita. Sekali lagi, fokuslah pada apa yang bisa Kita lakukan, fokuslah pada potensi Kita.

Tulisan disini tidak bermaksud agar Kita mengabaikan kelemahan Kita, lho….Sebagai  contoh; Misalnya saja Kita ingin sekali menjadi pemain basket, tapi Kita terlalu pendek. Jika Kita fokus pada kelemahan Kita, yaitu terlalu pendek, maka Kita tidak akan mencoba bermain basket. Tapi jika Kita fokus pada kemampuan Kita, maka Kita akan berusaha. Misalnya saja, Kita bisa fokus pada kemampuan Kita yang bisa berlari dengan cepat, atau stamina Kita bagus.

Jadi, bisakah Kita melihat perbedaannya? Jika Kita hanya memikirkan kelemahan, berarti Kita membiarkan kelemahan tersebut menentukan hasil yang akan Kita dapatkan. Sebaliknya, jika Kita memikirkan kekuatan atau kelebihan, maka diri Kita sendiri lah yang menentukan hasil yang akan Kita dapatkan.
  
Akhir kata, teruslah berpikir positif, karena "keberanian sejati timbul dari kesabaran yang terus-menerus". Marilah kita mengarahkan pikiran kita pada hal-hal besar dan inspiratif. Carilah inspirasi sebanyak-banyaknya, bila perlu jadikan pikiran besar dari orang lain bisa menjadi milik kita, sehingga kita bisa hidup dengan potensi kita yang sebesar-besarnya. 
  

Disadur kembali dari karya Elsa Sakina
Share: